Setiap Jabatan Punya Masanya, Setiap  Masa Ada Orangnya Jangan Sampai Tergilas Siklusnya

Deliserdang, Utomo News, Minggu 25 Januari 2026 – |

Dalam ajaran Islam, Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Insyiqaq ayat 19: “Sekali-kali tidak demikian, (sebenarnya) semua itu adalah perkara-perkara yang pasti terjadi. (yaitu) yang terjadi sekali lagi setelah yang pertama.” Ayat ini mengingatkan kita bahwa segala sesuatu di alam semesta ini berputar dalam siklus abadi: setiap masa ada waktunya, dan setiap waktu ada jamannya. Begitu pula sebaliknya, tidak ada yang kekal selamanya.

Prinsip ini bukan sekadar filosofi mistis, melainkan realitas yang nyata dalam kehidupan, terutama kita ambil contoh di ranah pendidikan yang penuh dinamika jabatan.

Bayangkan roda waktu yang terus berputar di dunia pendidikan Indonesia. Jabatan seperti kepala sekolah, wakil kepala, dekan fakultas, rektor universitas, hingga direktur jenderal di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bukan milik satu orang selamanya.

Setiap jabatan punya masanya—mungkin 5 tahun untuk masa jabatan kepala sekolah sesuai Permendikbud No. 6 Tahun 2019, atau 4-5 tahun untuk rektor berdasarkan UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Dan setiap masa itu, waktu akan membawa orang baru yang “jamannya” tiba.

Sirkulasi ini seperti musim yang berganti: semi digantikan musim panas, hujan digantikan kemarau. Siapa yang memahami putaran ini akan menjalani peranannya dengan santai, penuh syukur, dan siap melepasnya tanpa beban.

Sebaliknya, bagi yang bersikukuh menganggap jabatan itu abadi—seperti memeluk singgasana kekuasaan tanpa peduli tenggat waktu—maka roda itu akan menggilas dengan sendirinya.

Lihat saja contoh nyata di lapangan pendidikan kita. Ingat kasus pergantian rektor di sejumlah universitas negeri ternama, seperti Universitas Indonesia atau Institut Pertanian Bogor, di mana mantan rektor yang “nyaman” di kursi panas sering kali tersandung isu korupsi atau konflik internal saat masa jabatannya habis.

Atau di tingkat sekolah, banyak kepala sekolah di daerah seperti Sumatera Utara yang awalnya heroik membangun prestasi, tapi terperosok saat siklus rotasi tiba karena tak mau mundur.

Data dari Kemendikbudristek menunjukkan, pada 2024-2025 saja, ribuan jabatan kepala sekolah diganti melalui seleksi terbuka, membuktikan bahwa waktu memang tak pandang bulu.

Bahkan dalam Hadits Nabi SAW riwayat Bukhari, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang diberi kepemimpinan oleh Allah, maka itu adalah amanah. Dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya.” Jabatan pendidikan bukan warisan begitu juga jabatan lainnya, tapi amanah sementara yang harus diserahkan saat waktunya tiba.

Oleh karena itu, bagi para pemimpin pendidikan—mulai guru besar hingga pejabat kementerian—pahami putaran roda ini. Gunakan masa jabatan untuk membangun generasi unggul, bukan membangun istana pribadi.

Santai lah menjalaninya, karena setelah masa Anda, akan datang “orangnya” yang siap melanjutkan. Siapa yang ingkar, akan tergilas oleh arus waktu itu sendiri, meninggalkan pelajaran berharga bagi penerus itu adalah poin pentingnya. ***.

(Hasan Basri Siregar Ketua JWI Deli Serdang).

Views: 30