Mengapa Positif dan Negatif dalam Lampu Pijar Harus Terhubung, Bukan Sekadar Dekat? Oleh: Hasan Basri Siregar, Ketua JWI Deli Serdang

 

Deli Serdang, (Utomo News – Sabtu, 22 November 2025).

Dalam kehidupan sosial, politik, maupun komunikasi, kita sering mendengar ajakan untuk “saling mendekati” sebagai upaya menciptakan pemahaman dan menyelesaikan konflik. Namun, konsep tersebut sesungguhnya memerlukan penjelasan lebih dalam agar tidak disalahartikan sekadar sebagai kedekatan fisik atau emosional tanpa keterhubungan yang nyata.

Perumpamaan lampu pijar memberikan ilustrasi penting mengenai hal ini. Sebuah lampu pijar hanya dapat menyala apabila arus listrik mengalir dari kutub positif ke kutub negatif melalui sambungan kabel yang menghubungkan keduanya. Jika kedua kutub itu hanya berdekatan tanpa adanya hubungan yang memungkinkan arus mengalir, maka lampu tetap tidak akan menyala—meskipun jaraknya sangat dekat.

Begitu pula dalam relasi sosial dan politik. Kedekatan tanpa koneksi yang benar, tanpa komunikasi yang jujur, serta tanpa interaksi bermakna, tidak akan menghasilkan energi positif apalagi solusi. Saling mendekati yang hanya berupa gerak simbolik, retorika kosong, atau pendekatan permukaan, tidak cukup untuk menyalakan “lampu perubahan” yang diharapkan masyarakat.

Untuk benar-benar menerangi kehidupan bersama, hubungan harus dibangun melalui “sambungan kabel” berupa komunikasi terbuka, kompromi yang tulus, dan langkah nyata yang menghubungkan dua pihak secara substansial. Di sinilah arus energi positif—berupa toleransi, kepercayaan, dan pemahaman—dapat mengalir dengan baik.

Fenomena ini menjadi pelajaran penting dalam dinamika sosial dan politik hari ini. Tidak sedikit pihak yang menampilkan kedekatan simbolik, tetapi gagal membangun koneksi riil yang berdampak. Lampu pijar tidak akan menyala tanpa sambungan kabel yang baik—demikian pula dialog sosial yang tidak dibangun dengan interaksi tulus dan konstruktif hanya menciptakan kebuntuan dan retaknya komunikasi.

Artinya, proses saling mendekati harus dimaknai lebih dari sekadar merapatkan jarak. Ia harus diwujudkan dalam hubungan yang benar-benar mengalirkan energi bagi perubahan positif. Inilah tantangan besar dalam demokrasi dan kehidupan bermasyarakat modern: bagaimana mengubah kedekatan menjadi koneksi bermakna yang membangun.

Semangat ini selaras dengan visi Deli Serdang Sehat, Cerdas, dan Religius yang digaungkan Bupati dr. Asriluddin Tambunan. Sebuah ajakan untuk menyalakan cahaya perubahan melalui hubungan yang kuat, bukan sekadar kedekatan yang semu.***

Views: 21