Surga Itu Mahal, Tapi Orang Miskin Berhak Memilikinya — Karena Harganya Ada pada Taqwa, Bukan Harta. Oleh; Hasan Basri Siregar.

 

Deliserdang, Utomo news, Jum’at 14/11/2025) |

Surga adalah destinasi tertinggi bagi setiap mukmin yang berharap ridha Allah. Dalam pandangan duniawi, kata “mahal” sering diasosiasikan dengan harga tinggi, sesuatu yang sulit dijangkau kecuali oleh orang kaya dengan harta melimpah.

Namun, Al-Qur’an menegaskan bahwa harga surga bukan diukur dengan kekayaan materi, melainkan dengan satu kunci utama: ketakwaan.

Allah berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 133-136:”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa…” (QS. Ali Imran: 133-134)

Ruang surga seluas langit dan bumi itu bukan milik mereka yang kaya secara materi, melainkan bagi mereka yang menyucikan diri dengan ketakwaan.

Taqwa berarti menjaga diri dari larangan Allah dan menjalankan perintah-Nya secara konsisten, bukan sekadar memiliki harta sebagai jaminan kebahagiaan.

Rasulullah SAW pun bersabda, “Orang kaya bukanlah yang banyak hartanya, tetapi orang kaya adalah orang yang kaya hati” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kekayaan hati itu datang dari keimanan dan ketakwaan yang menghantarkan seseorang kepada surga, meskipun secara duniawi dia miskin.

Ilmu pengetahuan modern juga mengungkap bahwa kebahagiaan sejati bukan berasal dari uang atau materi, melainkan dari kedamaian batin dan hubungan spiritual yang kuat.

Studi psikologi menunjukkan bahwa rasa syukur dan ketaatan kepada nilai-nilai luhur meningkatkan kesejahteraan mental dan emosional seseorang, yang sejalan dengan konsep taqwa dalam Islam.

Oleh karena itu, biarpun miskin secara materi, seorang mukmin yang bertakwa mampu “membeli” surga dengan harga yang sangat terjangkau: niat tulus, amal shalih, keteguhan hati dalam menjalankan ajaran Islam, serta memperbanyak dzikir dan doa.

Surga bukan hadiah untuk yang memiliki banyak uang, tetapi hadiah bagi yang memiliki iman dan taqwa. Jadi, jangan pernah merasa bahwa kemiskinan dunia menjadi penghalang untuk meraih kebahagiaan abadi di akhirat. Karena dalam Islam, yang menentukan bukan besarnya harta, tapi dalam besarnya ketakwaan. ***.

Views: 19