Medan Utomo News – ?
Pengacara senior Jhon Erwin Tambunan SH memberikan tanggapan keras terkait pernyataan Peneliti Ahli Utama BRIN, Prof. Dr. R. Siti Zuhro, M.A., yang menyebut korupsi di Indonesia sudah menjadi “bencana luar biasa”. Pernyataan itu disampaikan Jhon Erwin kepada awak media di Medan, Kamis (28/5/2026).
Menurutnya, pernyataan Siti Zuhro bukan sekadar kritik sosial, melainkan tamparan keras bagi nurani bangsa yang selama ini abai terhadap persoalan mendasar negara.
“Indonesia dianugerahi kekayaan alam luar biasa. Tapi ironisnya, rakyat masih banyak hidup dalam kesulitan. Sementara negara lain yang miskin sumber daya alam seperti Jepang, Singapura, hingga Korea Selatan mampu menjadi negara maju karena tata kelola yang bersih dan disiplin, kita justru seperti berjalan di tempat karena terus dirusak oleh kerakusan dan penyalahgunaan kekuasaan,” tegas Jhon Erwin.
Ia menyoroti bahwa para pendiri bangsa telah meletakkan cita-cita besar agar Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Kekayaan alam seharusnya menjadi alat kemakmuran rakyat, bukan ladang keuntungan bagi segelintir kelompok yang dekat dengan kekuasaan.
“Yang terjadi hari ini, rakyat justru merasa seperti penonton di rumahnya sendiri. Kekayaan bumi diangkut keluar, sementara rakyat di dalam negeri masih berjuang untuk pekerjaan, pendidikan, dan kebutuhan hidup yang layak,” ujarnya.
Jhon Erwin juga mengkritik beban pajak dan pungutan yang terus dibebankan kepada rakyat kecil, sementara kebocoran anggaran dan praktik korupsi masih marak di berbagai sektor.
“Rakyat kecil dipaksa patuh, tetapi sebagian elite justru mempertontonkan kemewahan di tengah penderitaan masyarakat. Jika kondisi ini terus dibiarkan, yang hancur bukan hanya ekonomi, tetapi juga kepercayaan rakyat terhadap negara,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa kekuasaan bukanlah alat untuk memperkaya diri, melainkan amanah untuk melayani rakyat. Menurutnya, ketika keadilan mati dan suara rakyat diabaikan, maka negara sedang berjalan menuju krisis moral yang berbahaya.
“Rakyat hari ini bukan bodoh. Mereka lelah melihat janji yang terus diulang tanpa perubahan nyata. Setiap pemimpin harus sadar, doa rakyat yang terzalimi tidak memiliki penghalang di hadapan Tuhan. Jangan sampai kesabaran rakyat berubah menjadi kemarahan sosial yang sulit dikendalikan,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Jhon Erwin menegaskan bahwa masalah Indonesia bukan kekurangan kekayaan alam, melainkan kekurangan keteladanan, kejujuran, dan keberpihakan kepada rakyat.
“Indonesia tidak kekurangan SDA. Indonesia hanya terlalu lama kekurangan pemimpin yang benar-benar berpihak kepada rakyat,” pungkasnya. (Hari’S) .
Views: 24












