Medan, Utomo News, Rabu 18 Maret 2026-|
Betapa kejam dan sadisnya dua negara Amerika Serikat Raja Teroris dan Israel Yahudi si Raja Setan mengobrak abrik tatanan pemerintahan suatu negara. Bayangkan sebuah kawasan di mana minyak, rudal, dan ideologi saling bertabrakan, menciptakan badai geopolitik yang tak kenal ampun. Timur Tengah, dengan cadangan minyak terbesar dunia (sekitar 48% dari total global menurut BP Statistical Review 2025), sering jadi arena perebutan kekuasaan.
Di sini, pemimpin yang menentang dominasi Amerika Serikat dan sekutunya Israel kerap berujung nasib kelam—dari embargo energi hingga mereka dengan liciknya membuat tuduhan senjata pemusnah massal.
Sejarah mencatat empat tokoh ikonik yang “ditakuti” karena membela Palestina, menolak hegemoni dolar, dan membangun “poros perlawanan”. Kematian mereka? Bukan kebetulan, melainkan titik balik peta kekuasaan kawasan.
1. Raja Faisal bin Abdulaziz (Arab Saudi, Dibunuh 1975)Pemimpin visioner ini memicu krisis energi global lewat Embargo Minyak 1973 bersama OPEC. AS kehilangan 7% PDB-nya (data Departemen Energi AS), bensin melonjak 400%, dan ekonomi Barat lumpuh. Faisal menolak dukungan AS ke Israel pasca-Perang Yom Kippur, menuntut hak Palestina via Resolusi PBB 242. Dua tahun kemudian, ia ditembak mati oleh keponakannya di istana Riyadh. Motif resmi: “gangguan mental”. Tapi bagi banyak analis (seperti dalam buku The Oil Kings oleh Andrew Scott Cooper), ini balasan atas keberaniannya menggunakan “senjata minyak” untuk kedaulatan Arab.
2. Saddam Hussein (Irak, Dieksekusi 2006)”Diktator Baghdad” ini jadi musuh nomor satu AS-Israel setelah menyerang Iran (1980-1988, didukung Barat awalnya) dan menembaki Israel dengan Scud saat Perang Teluk 1991. Invasi AS 2003, dengan dalih “senjata pemusnah massal” yang tak pernah ditemukan (laporan Duelfer 2004), merobohkan rezimnya. Saddam, yang pernah subsidi jutaan dolar untuk keluarga syuhada Palestina, digantung setelah pengadilan kontroversial. Dampaknya? Irak hancur: 200.000+ warga sipil tewas (Lancet 2006),
3. Muammar Gaddafi (Libya, Dibunuh Brutal 2011)”Raïs Gila” ini tolak hegemoni dolar dengan rencana Dinar Emas Afrika (didukung 20+ negara, per dokumen Wikileaks). Ia salurkan miliaran dolar untuk Hamas dan Jihad Islam Palestina, plus bangun “Great Man-Made River” untuk kemandirian air Libya. Resolusi PBB 1973 dibelokkan NATO (dipimpin AS-Inggris-Prancis) jadi 26.000 serangan udara. Gaddafi ditangkap, disiksa, dan ditembak di Sirte oleh pemberontak. Hillary Clinton komentari via email: “We came, we saw, he died.” Libya kini pecah: perang saudara, migrasi massal, dan hilangnya cadangan emas 143 ton (IMF data).
4. Hassan Nasrallah (Hizbullah Lebanon, Dibunuh 2024)Pemimpin Hizbullah ini arsitek “Poros Perlawanan” Iran, tantang Israel langsung via 2006 (Perang Lebanon: 1.200 warga Lebanon tewas, laporan PBB) dan serangan Oktober 2023 (ribuan roket). AS labeli dia teroris, sanksi miliaran dolar. Pada 27 September 2024, Israel bom markas bawah tanah Beirut, tewas Nasrallah bersama 30+ komandan (konfirmasi IDF & media Iran). Ini picu eskalasi Gaza-Lebanon, dengan AS kirim bantuan senilai $20 miliar ke Israel (Kongres AS 2025). Nasrallah simbol ketahanan Syiah, tolak normalisasi Abraham Accords.
Pesan dari Sejarah: Kekuasaan Berubah, Keadilan Abadi
Kekejian ini—embargo dibalas pembunuhan, invasi atas tuduhan palsu, intervensi brutal—mengungkap pola: siapa saja yang ganggu “status quo” AS-Israel (dukung Israel via $3,8 miliar bantuan tahunan, data CRS 2025) berisiko dihabisi. Tapi geopolitik kompleks: faktor internal, aliansi regional, dan hak asasi ikut main. Moralnya? Perjuangan kedaulatan mulia, tapi damai dan diplomasi (seperti JCPOA Iran 2015) lebih berkelanjutan.
Sejarah ingatkan: kekuasaan AS sangat keji, ia serang seperti Vietnam atau Afghanistan. Dan kini Iran menjadi sasaran kekejiannya. Tentu Iran tidak terima, sekalipun pemimpin tertinggi Iran telah tewas dan negerinya porak-poranda, Iran tetap melawan karena tak ingin ditindas dan di intimidasi. Mari junjung Palestina via dialog, bukan darah. Iran telah menunjuk perjuangan sampai titik darah penghabisan. Dunia harus melek mata dan khusus dunia Islam harus membantu tidak cukup hanya doa saja. (*).
Views: 44












