Timur Tengah, Utomo News, Minggu 8 Maret 2026-|
Tingginya kobaran konflik Timur Tengah yang semakin memanas—dari serangan rudal Iran ke Israel pada Oktober 2024 hingga eskalasi proxy war di Yaman dan Lebanon—Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) mengambil sikap tegas yang mengguncang aliansi Barat.
Kedua raksasa Teluk ini secara resmi menolak permintaan Amerika Serikat untuk menggunakan wilayah darat, pangkalan militer, maupun ruang udara mereka sebagai basis operasi militer langsung terhadap Iran.
Keputusan ini diumumkan melalui saluran diplomatik tertutup pada awal Maret 2026, seperti dilaporkan oleh sumber intelijen Barat dan dikonfirmasi oleh pernyataan Menteri Luar Negeri Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, yang menekankan “prioritas stabilitas regional di atas intervensi asing.”Riyadh dan Abu Dhabi tak ingin tanah air mereka jadi titik tolak serangan yang berpotensi memicu balasan dahsyat dari Teheran.
Fakta sejarah memperkuat ketakutan ini: Pada 2019, serangan drone Iran ke fasilitas minyak Aramco di Abqaiq menyebabkan kerugian hingga 2 miliar dolar AS dan gangguan pasokan minyak global sebesar 5,7 juta barel per hari—rekor terburuk sejak Perang Teluk 1991.
UEA pun trauma dengan serangan Houthi (didukung Iran) ke pelabuhan Fujairah pada 2019, yang mengganggu 10% ekspor minyak dunia. Kini, dengan produksi minyak OPEC+ yang didominasi Saudi (9 juta barel/hari) dan UEA (3,2 juta barel/hari), keduanya sadar bahwa perang langsung bisa picu lonjakan harga minyak di atas 100 dolar AS per barel, seperti prediksi EIA AS untuk skenario konflik 2026.
Sikap ini mencerminkan pergeseran strategis negara Teluk pasca-normalisasi Abraham Accords 2020. Saudi, di bawah Vision 2030 Mohammed bin Salman, fokus diversifikasi ekonomi dari minyak ke pariwisata dan teknologi—dengan investasi 1,3 triliun dolar AS—tak mau terganggu perang.
UEA, pemimpin diversifikasi Teluk dengan PDB non-minyak 70%, juga prioritas perdamaian via IPEF dan dialog dengan Iran lewat mediasi Oman. Penolakan ini bukan anti-AS sepenuhnya—keduanya tetap host pangkalan AS seperti Al Udeid di Qatar tetangga—tapi sinyal jelas: “Kami bukan pion dalam perang proksi Washington-Teheran,” kata analis Carnegie Endowment.
Implikasinya luas: AS kini terhambat logistik di Teluk, bergantung pangkalan di Qatar atau Bahrain yang terbatas, sementara Iran merasa lebih aman dengan dukungan Rusia-Cina via BRICS.
Bagi Indonesia sebagai importir minyak terbesar ke-4 dunia (1,8 juta barel/hari), eskalasi ini bisa tekan subsidi BBM dan inflasi hingga 5-6% seperti proyeksi BPS 2025. Timur Tengah memasuki era baru: negara Teluk pilih netralitas cerdas demi kelangsungan. (Hari’S).
Views: 63












