Pemilu Bukan Sekadar Permainan: Ketika Penonton Hanya Dukung, Tanpa Tuntut Balasan. Oleh; Hasan Basri Siregar Ketua JWI Deli Serdang.

 

Deli Serdang, (Utomo news, Sabtu, 22/11/2025). |

Dalam demokrasi, Pemilu sering dianalogikan seperti pertandingan olahraga di sebuah stadion. Di sana ada dua pihak yang jelas: pemain yang bertanding dan penonton yang menyemangati.

Penonton datang membawa dukungan, tenaga, waktu, bahkan uang untuk membeli tiket masuk. Begitu pula pemilih di Pemilu memberikan suara, tenaga kampanye, hingga sumber daya lainnya untuk memenangkan kandidat jagoannya.

Namun, apa yang terjadi setelah pertandingan selesai? Ketika jagoan menang, penonton merayakan dengan suka cita tanpa menuntut balasan apapun.

Analogi ini mengungkap sisi penting dari demokrasi yang sering terlupakan: peran rakyat sebagai penonton yang sepenuh hati mendukung jalannya pertandingan politik tanpa menuntut proyek atau janji duniawi ketika pemilu usai.

Tapi, dalam praktik kehidupan politik Indonesia, harapan ini kerap bertabrakan dengan realitas di lapangan.Penonton—atau pemilih—yang selama ini menjadi sumber kekuatan suara kerap kali berharap imbalan nyata, baik itu proyek pembangunan, jabatan, atau fasilitas tertentu pasca kemenangan kandidatnya.

Hal ini menciptakan siklus politik transaksional yang melemahkan makna sejati demokrasi dan memperlemah kepercayaan publik terhadap proses pemilu itu sendiri.

Dengan analogi pemain dan penonton, sejatinya pemain yang sudah dipercaya rakyat memiliki tugas menjaga integritas dan mewujudkan janji kampanye tanpa harus membayar suara lewat proyek-proyek tertentu.

Penonton di sisi lain, harus bisa menjaga sikap sportif dan mendukung jalannya pemerintahan tanpa tuntutan berlebih yang membelit politisi dengan kepentingan pribadi.

Pertanyaannya kemudian, bisakah demokrasi Indonesia berjalan seperti pertandingan terbaik, di mana penonton menatap dengan optimisme dan percaya pada pemainnya, tanpa harus menunggu “hadiah” politik? Atau, akankah terus tertahan dalam praktik politik berbasis patronase yang mengikis fundamental demokrasi?

Analogi Pemilu seperti arena pemain dan penonton ini seharusnya mengingatkan kita semua bahwa kemenangan politik adalah amanah rakyat, bukan komoditas yang diperdagangkan.

Penonton yang datang dengan sepenuh hati mendukung tidak mengharapkan balasan, melainkan perubahan nyata dari pemerintah yang bekerja untuk kepentingan bersama untuk kesejahteraan masyarakat. ***.

Views: 4