Look
Deli Serdang,Utomo News-|
1. PEMERINTAHAN ADALAH EKSTENSI RUMAH TANGGA.
Dalam ilmu pemerintahan dan sosiologi politik, negara sering diibaratkan sebagai “rumah besar”. Aristoteles menyebutnya polis, Bung Hatta menyebutnya “rumah tangga bangsa”.
Logikanya sederhana: bagaimana mungkin kita tertib bernegara jika di rumah sendiri kita tidak tertib?
Mengurus pemerintahan itu hakikatnya seperti membina mahligai rumah tangga. Ada kepala keluarga, ada anggota keluarga, ada rezeki terbatas, ada kebutuhan yang banyak, dan ada aturan main agar rumah itu tidak runtuh.
Ambil contoh Pemkab Deli Serdang. Ibaratnya Pemkab ini punya 22 orang anak. 22 anak itu adalah 22 Kecamatan.
Sang Ayah adalah Bupati. Beliau bukan konglomerat. Beliau ibarat petani biasa — APBD kita terbatas, tidak bisa untuk semuanya sekaligus.
Seorang ayah yang cerdas tentu tidak akan membelikan motor, laptop, dan biaya kuliah untuk 22 anaknya dalam waktu yang bersamaan. Beliau akan duduk, membuat skala prioritas.
Mana yang sakit harus didahulukan berobat. Mana yang mau sekolah didahulukan biayanya. Mana yang bisa ditunda, ya ditunda dulu.
Begitu juga Pemkab. Tidak semua jalan, drainase, puskesmas, dan sekolah di 22 kecamatan bisa dikerjakan serentak di 1 tahun anggaran. Ada proses, ada tahapan, ada kemampuan kas daerah.
2. ANAK YANG TAKZIM DAN PEMERINTAH YANG AMANAH
Dalam rumah tangga yang sehat, anak tidak berhak berontak kepada ayahnya hanya karena belum kebagian jajan. Anak yang baik akan bertanya: “Ayah, uangnya ada berapa? Kebutuhan kita apa saja? Saya sabar ya Yah.” Itulah takzim.
Di pemerintahan pun begitu. Masyarakat sebagai “anak” berhak mengawasi, berhak mengkritisi, tapi harus dengan data dan fakta anggaran. Tidak boleh demo tanpa melihat APBD. Tidak boleh menuntut aspal di semua desa dalam 3 bulan jika dana dan alat berat terbatas.
Sebaliknya, sang “ayah” yaitu pemerintah juga wajib amanah. Harus transparan: “Nak, uang ayah tahun ini segini. Prioritas kita perbaiki jembatan dulu, tahun depan giliran jalanmu.”
Inilah substansi dari *musyawarah dan akuntabilitas* dalam UUD 1945 Pasal 18. Pemerintah daerah mengelola rumah tangganya sendiri, tapi tetap dalam koridor pengawasan rakyat.
3. PELAJARAN DEMOKRASI DARI RUMAH TANGGA KE NEGARA
Analogi ini naik satu tingkat ke skala nasional. Presiden Prabowo Subianto ibarat “kepala keluarga” bagi 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota.
Beliau pernah berpesan dengan tegas:
“Jangan sikut-sikutan antar partai, jangan saling hujat tanpa solusi. Berikan kesempatan 5 tahun. Kalau kinerjanya tak berbuah hasil, mari bertarung di pemilu yang akan datang. Begitu cara kita menjaga demokrasi.”
Ini adalah demokrasi yang dewasa. Dalam rumah tangga, suami istri boleh beda pendapat, tapi tidak menceraikan setiap hari. Dalam bernegara, partai boleh berbeda ideologi, tapi tidak menjatuhkan negara setiap hari.
Konflik itu keniscayaan. Tapi yang membedakan bangsa maju dan bangsa mundur adalah: mampukah kita mengelola konflik dengan etika dan konstitusi.
4. KESIMPULAN: 3 PRINSIP MENGURUS “RUMAH BESAR”
Dari analogi mahligai rumah tangga ini, ada 3 prinsip yang harus kita pegang bersama:
1. PRINSIP SKALA PRIORITAS
Pemerintah harus jujur dengan keterbatasan anggaran. Rakyat harus paham bahwa pembangunan itu bertahap. Tidak ada sulap. Yang ada perencanaan.
2. PRINSIP TAKZIM DAN PENGAWASAN
Rakyat sebagai “anak” wajib tertib, mendukung program, tapi tetap mengawasi. Jangan diam, tapi juga jangan anarkis. Gunakan UU KIP, gunakan DPRD, gunakan media.
Pemerintah sebagai “ayah” wajib terbuka. Jangan bungkam saat ditanya data.
3. PRINSIP DEMOKRASI YANG BERADAB
Berpolitik boleh keras, tapi jangan menghancurkan. Berkompetisi boleh sengit, tapi 5 tahun sekali di bilik suara. Setelah itu kita kembali bersaudara membangun “rumah” bernama Indonesia.
Akhir kata, mari kita urus Deli Serdang ini seperti kita mengurus rumah kita sendiri. Dengan kepala dingin, hati bersih, dan tangan bekerja.
Jangan sampai “nafsu” menguasai “aqal”. Karena rumah yang diisi nafsu pasti retak. Tapi rumah yang diisi musyawarah, prioritas, dan takzim, insyaAllah akan menjadi mahligai yang kokoh untuk 22 anak kita.
Wallahu a’lam bishawab.
Views: 8












