Oleh Hasan Basri Siregar pengamat kebijakan publik.
Deli Serdang, Utomo News, Sabtu, (20/Juni/2026) -|
Video Bupati Asri Ludin yang beredar luas saat meninjau perbaikan Jalan Paluh Gelombang/Industri, Desa Tanjung Selamat Percut Sei Tuan, jadi bukti empiris dari kepemimpinan Bupati dr Asri Ludin.
Dalam video itu beliau menegaskan 2 poin kunci:
1. “Pembangunan infrastruktur bergantung kemampuan keuangan daerah, salah satunya dari pajak masyarakat”
2. “Pemda punya keterbatasan anggaran, maka pembangunan dilakukan berdasarkan skala prioritas”
Ini bukan sekadar klarifikasi. Ini adalah “pelajaran ekonomi politik anggaran” langsung dari Bupati ke rakyatnya. Beliau memilih jujur soal keterbatasan, bukan janji muluk. Dalam ilmu kebijakan publik, ini disebut “fiscal realism” – kejujuran fiskal adalah modal utama kepercayaan, dan “mengedukasi”.
Ilmu komunikasi menyebut ini “availability bias”: otak publik lebih percaya apa yang dia lihat di HP, dibanding data APBD setebal 500 halaman. Di titik inilah kepemimpinan diuji: ikut hanyut membalas video, atau pegang kompas?
Tesis Utama: “Pemimpin Hebat Pilih Dampak Kolektif, Bukan Janji Universal”.
Kalimat kunci opini ini:
“Pemimpin hebat bukan janji semua jalan sekaligus. Pemimpin hebat pilih jalan yang dampaknya untuk semua orang sekaligus.”
Ini bukan slogan. Ini prinsip “Pareto Principle” dalam kebijakan publik: 20% jalan yang diperbaiki harus memberi dampak 80% ke ekonomi rakyat.
Bukti empiris Bupati Dr. Asri Ludin Tambunan:
1. Jalan Industri Paluh Gelombang, Percut Sei Tuan diviralkan karena masalah pajak. Tapi beliau pilih perbaiki dulu karena 1 km di sini = rantai pasok 10.000 buruh + UMKM lancar. Dampak kolektif.
2.Peresmian jalan penghubung Pagar Merbau – Beringin – Pantai Labu di Dusun III, Desa Suka Mandi Hilir,Beliau kerjakan karena ini jalan produksi sawit/gabah ribuan petani. Dampak kolektif.
Beliau tolak “janji universal”: semua gang, semua jalan, semua serentak. Karena ilmu anggaran bilang: anggaran terbatas, waktu terbatas. Janji universal = utang politik yang mustahil dibayar.
Analisis: “Kompas Pro-Rakyat” vs “Bising Pro-Kontra Media”
Video viral menciptakan 2 kubu: “Pro” yang bilang “Bupati kerja”, “Kontra” yang bilang “Bupati gagal”. Ini “bising pro-kontra” yang menghabiskan energi.
Dr. Asri Ludin memilih opsi ke-3: pegang kompas pro-rakyat. Kompas itu punya 3 jarum:
1. Jarum Pajak: Beliau jujur bilang “bangun dari pajak bapak/ibu”. Ini edukasi, bukan defensif.
2. Jarum Prioritas: Beliau akui “anggaran terbatas”. Ini fiscal realism, bukan alasan.
3. Jarum Dampak: Beliau tunjuk “jalan ini untuk logistik, jalan itu untuk tani”. Ini evidence-based policy, bukan pencitraan.
Saat semua sibuk “debat menang di media”, kompas ini menuntun beliau “kerja menang di lapangan”.
Proyeksi Sejarah: Legitimasi Terakhir Ada di Lapangan, Bukan di Komentar.
“Di tengah bisingnya pro-kontra, Dr. Asri Ludin memilih memegang kompasnya – kebijakan pro-rakyat. Dan sejarah akan mencatat, rakyat tidak memilih bupati karena debatnya menang di media, tapi karena hidupnya berubah di lapangan.”
Ini “teori legitimasi substantif”. 2029 nanti, warga Deli Serdang tidak akan ingat debat komentar di medsos, Yang mereka ingat:
Peresmian jalan penghubung Pagar Merbau – Beringin – Pantai Labu di Dusun III, Desa Suka Mandi Hilir,Beliau kerjakan karena ini jalan produksi sawit/gabah ribuan petani.
Warga Percut Sei Tuan tidak akan ingat video viral 30 detik. Yang mereka ingat: dulu jalan berlubang dan berdebu, sekarang sudah mulus.
Sejarah tidak ditulis oleh netizen. Sejarah ditulis oleh ibu-ibu yang belanja lebih murah, dan stok pasar selalu ada, sopir truk yang bisa menikmati jalan, petani yang hasil panen tidak busuk di jalan.
Video viral umur 3 hari. Jalan mulus 10 tahun.
Tugas pemimpin bukan memenangkan “perang video”. Tugas pemimpin adalah memastikan “perang melawan kemiskinan”.
Dr. Asri Ludin sudah pilih medan perangnya: lapangan, bukan kolom komentar. Kompas pro-rakyat sudah di tangan. Sekarang tugas kita sebagai rakyat: kawal prosesnya, koreksi kekurangannya, tapi jangan buta pada dampaknya. (*).
Views: 22












