Deli Serdang, Utomo News, Jum’at (29/5/2026) | Oleh; Hasan Basri Siregar.
*Abstrak*
Tulisan ini membahas konstruksi tujuan hidup manusia dalam perspektif Islam yang meliputi tiga dimensi: keberhasilan, keterarahan, dan penghormatan sosial. Ketiga dimensi tersebut hanya dapat diwujudkan melalui integrasi antara _al-‘ilm_ dan _al-fahm_. Analisis dilakukan dengan pendekatan normatif berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad ﷺ.
1. Pendahuluan
Manusia diciptakan dengan tujuan utama beribadah kepada Allah ﷻ sebagaimana firman-Nya:
> _“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”_
> [QS. Adz-Dzariyat: 56]
Tujuan teologis ini menjadi kerangka bagi tujuan-tujuan praktis duniawi, yakni agar hidup manusia berlangsung secara berhasil, terarah, dan memperoleh kedudukan terhormat di tengah masyarakat. Ketiganya mensyaratkan adanya pengetahuan dan pemahaman sebagai fondasi kognitif dan etis.
2. Keberhasilan sebagai Manifestasi Amal yang Diterima
Keberhasilan dalam Islam tidak terbatas pada capaian material, melainkan pada _al-falah_—kemenangan hakiki di dunia dan akhirat. Allah berfirman:
> _“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”_
> [QS. Asy-Syams: 9-10]
Keberhasilan juga dikaitkan dengan amal saleh yang didasari ilmu. Rasulullah ﷺ bersabda:
> _“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agama.”_
> [HR. Bukhari No. 71, Muslim No. 1037]
Hadis ini menunjukkan bahwa keberhasilan hakiki berakar pada pemahaman agama yang benar, yang kemudian mengarahkan amal kepada tujuan yang diridhai Allah.
3. Keterarahan Hidup melalui Petunjuk Wahyu dan Sunnah
Keterarahan atau _istiqamah_ berarti konsistensi dalam menempuh jalan yang lurus. Allah berfirman:
> _“Maka tetaplah kamu pada jalan yang lurus sebagaimana diperintahkan kepadamu.”_
> [QS. Hud: 112]
Tanpa keterarahan, manusia rentan terhadap hedonisme dan _tashabbuh_ terhadap tujuan semu. Ilmu berfungsi sebagai peta, sedangkan pemahaman berfungsi sebagai kompas moral. Nabi ﷺ bersabda:
> _“Aku tinggalkan dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh pada keduanya: Kitabullah dan Sunnahku.”_
> [HR. Malik dalam al-Muwaththa’ No. 1594, dinilai hasan oleh al-Albani]
Dengan demikian, keterarahan hidup hanya terwujud ketika tujuan, metode, dan nilai-nilai berlandaskan wahyu.
4. Kehormatan Sosial sebagai Buah dari Integritas dan Hikmah
Kehormatan atau _al-izzah_ dalam Islam tidak diperoleh melalui dominasi, melainkan melalui ketakwaan, amanah, dan akhlak mulia. Allah berfirman:
> _“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”_
> [QS. Al-Hujurat: 13]
Rasulullah ﷺ bersabda:
> _“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”_
> [HR. Ahmad No. 8952, dinilai sahih oleh al-Albani]
Kehormatan sosial tumbuh ketika pengetahuan diimplementasikan dengan hikmah. Seseorang yang berilmu namun tidak memahami konteks dan maslahat akan kehilangan wibawa, sedangkan orang yang memahami tanpa ilmu akan kehilangan dasar argumentasi.
5. Integrasi Pengetahuan dan Pemahaman sebagai Syarat Utama
Pengetahuan tanpa pemahaman melahirkan formalisme, sedangkan pemahaman tanpa pengetahuan melahirkan subjektivisme. Keduanya harus berpadu. Allah berfirman:
> _“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”_
> [QS. Az-Zumar: 9]
Pemahaman menjadi penentu bahwa ilmu tidak hanya tersimpan di akal, tetapi juga membuahkan _bashirah_—ketajaman batin dalam menilai realitas. Dalam tradisi Islam, _al-‘alim al-rabbani_ adalah orang yang ilmunya disertai amal, akhlak, dan hikmah.
6. Penutup
Tujuan hidup yang berhasil, terarah, dan dihormati dalam Islam adalah tujuan yang berpusat pada ridha Allah, dilaksanakan dengan ilmu, diarahkan oleh pemahaman, dan dimanifestasikan dalam akhlak. Proses ini bersifat dinamis dan progresif, menuntut mujahadah intelektual dan spiritual secara berkelanjutan. Dengan demikian, manusia tidak hanya mencapai kebahagiaan duniawi, tetapi juga menjamin keselamatan ukhrawi.
*Daftar Rujukan*
1. Al-Qur’an al-Karim.
2. Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. _Shahih al-Bukhari_.
3. Muslim bin al-Hajjaj. _Shahih Muslim_.
4. Malik bin Anas. _Al-Muwaththa’_.
5. Ahmad bin Hanbal. _Musnad Ahmad_.
6. Al-Albani, Muhammad Nashiruddin.
Views: 1












