Berita  

“Katalis Leluhur: Profesor Dunia H-Index 81 Samakan Tugu Sihotang dengan Reaksi Kimia yang Hidupkan Budaya Batak di Tengah Modernisasi”

 

 

SAMOSIR, Utomo News – 5 Mei 2026-|

 

Di bawah langit biru Kenegerian Sihotang yang sakral, sebuah ziarah budaya bersejarah menyatukan sains modern dengan akar peradaban Batak kuno. Datuk Prof. ChM.Ts. Taufiq Yap Yun Hin, PJN, PGDK, FASc, FMIC, FGSC, CChem, AMIChemE, MMSET—pakar katalis kelas dunia dari Universiti Putra Malaysia (UPM) dengan H-Index Scopus mencapai 81 (sumber: Scopus, diakses 2026)—melakukan kunjungan simbolis ke Tugu Raja Ompung Sigodang Ulu Sihotang di Desa Sampur Toba, Samosir, pada 4 Mei 2026.

 

Kunjungan ini bukan wisata biasa, melainkan jembatan lintas abad: dari kimia katalitik yang merevolusi industri global hingga filosofi leluhur Batak yang telah bertahan ribuan tahun. 

 

Tugu setinggi 15 meter itu, didirikan pada 2015 sebagai monumen penghormatan bagi Raja Ompung Sigodang Ulu Sihotang—leluhur marga Sihotang yang konon hidup pada abad ke-16—menjadi saksi bisu migrasi Batak dari pusat Danau Toba ke pedalaman Tapanuli. 

 

Secara historis, tugu ini melambangkan “jangkar identitas” di tengah arus globalisasi, sebagaimana dicatat dalam arsip adat Batak dan studi etnografi Universitas Sumatera Utara (USU).

 

Sinergi IPTEK dan Kearifan Lokal: Analogi “Katalis Sosial”

 

Didampingi Kiyai Khalifah Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si., M.Si (ms2)—Kepala Laboratorium Fisika Nuklir USU Medan yang mengkhususkan diri pada aplikasi nuklir untuk energi berkelanjutan—rombongan Prof. Taufiq juga melibatkan Dr. Amalinah (eks-pensyarah Akuntansi UPM), putranya Danish (mahasiswa Fakultas Built Environment Universiti Malaya), serta Dra. Dara Aisyah, M.Si., Ph.D. (Sekretaris Prodi Administrasi Publik FISIP USU). 

 

Kehadiran lintas disiplin ini mencerminkan diplomasi IPTEK: fisika nuklir bertemu kimia katalis, diikat oleh administrasi publik dan akuntansi untuk keberlanjutan budaya.

 

Prof. Taufiq, yang juga Ketua PUTRA CAT UPM serta mantan Rektor Universiti Malaysia Sabah (UMS), menyamakan tugu leluhur dengan “katalis sosial”. Dalam kimia, katalis mempercepat reaksi tanpa habis terkonsumsi—seperti platinum dalam konverter mobil yang mengurangi emisi hingga 90% (data: Journal of Catalysis, 2023). 

 

Begitu pula tugu ini:

Mempercepat kesadaran generasi muda (millennial dan Gen-Z) untuk kembali ke budaya Batak di era TikTok dan AI.

 

Solidaritas marga tanpa batas, mengikat diaspora Sihotang di Indonesia-Malaysia.

Inspirasi keberlanjutan, mendorong kemajuan tanpa kehilangan jati diri.

 

“Monumen leluhur adalah jangkar identitas. Di sinilah generasi muda belajar bahwa mereka tidak tumbuh dari ruang hampa, melainkan dari akar sejarah yang kuat,” ujar Prof. Taufiq dengan nada haru di depan monumen megah itu. 

 

Ia menambahkan, “Sebagaimana katalis mempercepat perubahan positif, tugu ini picu kebanggaan dan persatuan. Dampaknya luas bagi pelestarian budaya di gempuran modernisasi.”

 

Fisika Nuklir Bertemu Adat: Kunci Kemajuan Bangsa

 

Ms2 menegaskan integrasi IPTEK dengan kearifan lokal sebagai “momentum emas”. “Setinggi apa pun ilmu seperti Fisika Nuklir—yang kini dikembangkan USU untuk reaktor riset dan energi terbarukan—ia harus membumi pada nilai adat. 

Kunjungan Prof. Taufiq di tanah leluhur kami buktikan itu,” tegasnya. 

 

Data USU menunjukkan, 70% mahasiswa Fisika Nuklir berasal dari etnis Batak, menandakan potensi sinergi ini untuk inovasi lokal seperti bio-katalis dari tanaman endemik Toba.

 

Diplomasi Serumpun: Dari Samosir ke Nusantara

 

Rangkaian kunjungan Prof. Taufiq mencakup Parapat, Berastagi, dan Medan, memperkuat ikatan Indonesia-Malaysia sebagai “Negara Serumpun”. “Warisan Nusantara adalah identitas kolektif yang harus kita jaga bersama demi masa depan bermarwah,” pesannya. 

 

Bagi Samosir dan Sumut, ini pesan mendalam: sejarah bukan batu semen, tapi katalis jiwa bangsa di era IPTEK 4.0.

Kunjungan ini berpotensi jadi model diplomasi budaya-IPTEK, terutama saat Indonesia dorong mandat pelestarian adat via UU Desa 2014. (Hari’S | Editor: Redaksi Sumut)

Views: 47