Medan, Utomo News, Minggu, 19 April 2026-|
Oleh: Hasan Basri Siregar
Di negeri yang katanya “berdaulat dan adil”, rakyat kecil kini harus saling berebut sampah dari truk untuk sekadar bertahan hidup. Ibu-ibu di lereng kumuh Jakarta, petani gurem di Jawa Tengah, hingga nelayan miskin di Sumatra Utara – semuanya berebut sisa kardus, botol dari restoran mewah dan pasar tradisional.
Foto-foto viral di media sosial menunjukkan antrean panjang di TPA sampah, di mana warga rela berdesak-desakan demi potong kardus atau pelastik. Ini bukan cerita fiksi dystopia; ini realitas pahit Indonesia 2026, di mana inflasi pangan melambung 15% tahun ini, upah minimum tak naik, dan bansos carut-marut hanya jadi alat kampanye politik.
Sementara itu, para pejabat tinggi pemerintahan pusat dan daerah asyik berebut “kue pesta” dalam pesta foya-foya yang tak terkira. Laporan utomo news dari sumber internal KPK mengungkap pesta ulang tahun menteri di hotel bintang lima Senayan, lengkap dengan kue tart setinggi dua meter impor dari Prancis senilai Rp500 juta – dibiayai APBN tentu saja.
Tak kalah mencolok, rombongan gubernur di Bali habiskan miliaran untuk yacht party sambil diskusikan “strategi pembangunan”.
Data BPK per kuartal I-2026 catat penyimpangan anggaran hiburan pejabat capai Rp2,5 triliun nasional, sementara 28 juta rakyat hidup di bawah garis kemiskinan resmi. Ironi apa lagi ini? Rakyat rebut sampah untuk makan malam, pejabat rebut kue untuk selfie Instagram!
Kritik pedas ini bukan sekadar luapan emosi, tapi seruan darurat terhadap rezim yang gagal total. Pemerintahan Prabowo 2.0 janjikan “emak-emak sejahtera” dan “pangan mandiri”, tapi kenyataannya?
Program food estate gagal total, impor beras banjiri pasar, dan korupsi infrastruktur seperti kasus tol Trans-Jawa versi 2.0 telan triliun tanpa hasil. Pejabat sibuk foya-foya di Eropa untuk “diplomasi ekonomi”, dan Teddy rayakan ulang tahun di hotel mewah Prancis sementara petani lokal bangkrut karena pupuk subsidi hilang ditelan mafia distribusi.
Ini bukan kebetulan, tapi sistem yang busuk dari akar. Elit penguasa lupa bahwa kekuasaan datang dari rakyat, bukan dari pesta mewah atau jet pribadi. Saat rakyat rebutan sampah, pejabat rebutan kue – itu sinyal akhir dari pemerintahan yang lebih peduli image daripada perut rakyat.
KPK harus gerak cepat, DPR wakili suara jalanan, dan rakyat bangun! Jangan biarkan Indonesia jadi negeri di mana sampah jadi makanan pokok, sementara elite pesta tanpa henti. (*).
Disclaimer: Berita ini berdasarkan data publik BPK, BPS, dan sumber kredibel. Utomo news berkomitmen jurnalisme independen.
Views: 14












