Berita  

Iran Bangkit Jadi Raksasa Militer Meski Embargo AS 47 Tahun, Indonesia Kaya SDA Tapi Terpuruk Hutang Menumpuk & Rakyat Miskin! Oleh; Hasan Basri Siregar, Ketua JWI DS

 

Medan, Utomo news, Minggu , 19 April 2026 – |

 

Saat Iran bangkit menjadi kekuatan militer regional terkuat di Timur Tengah meski dicekik sanksi ekonomi Amerika Serikat selama 47 tahun, Indonesia justru terjebak dalam pusaran hutang mencengkeram dan kemiskinan massal, padahal kaya raya akan sumber daya alam (SDA).

 

Kisah Iran yang mandiri dan inovatif ini menjadi tamparan telak bagi Indonesia: negara dengan cadangan nikel, bauksit, dan minyak sawit terbesar dunia, tapi gagal ubah kekayaan jadi kesejahteraan rakyat.

 

Diketahui, Iran menghadapi embargo perdagangan dan sanksi keuangan ketat dari AS sejak Revolusi Islam 1979, yang berlangsung hingga kini lebih dari empat dekade. Meski begitu, Teheran berhasil kembangkan industri militer domestik canggih.

 

Menurut laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) 2025, Iran kini punya 4.000 unit rudal balistik, termasuk Shahab-3 dengan jangkauan 2.000 km, drone canggih seperti Shahed-136 yang terbukti efektif di konflik Ukraina, serta armada kapal selam kelas Fateh. Pengeluaran militer Iran capai US$10,3 miliar pada 2024 (data SIPRI), didorong swasembada senjata hingga 90% berkat inovasi lokal.

 

“Iran tunjukkan kemandirian di bawah tekanan,” kata analis militer Fahri Hamzah dari Institute for Defence and Strategic Studies (IDSS) Singapura.

 

Sebaliknya, Indonesia dengan PDB SDA mencapai Rp2.500 triliun per tahun (Badan Pusat Statistik/BPS 2025) – termasuk 22% cadangan nikel dunia dan 3,6 juta hektar kebun sawit – malah tenggelam dalam hutang luar negeri Rp8.500 triliun atau 39% PDB (Kementerian Keuangan, Maret 2026).

 

Tingkat kemiskinan nasional masih 9,36% atau 26 juta jiwa (BPS 2025), dengan angka ekstrem di Papua dan NTT capai 30%. Korupsi, ketergantungan ekspor mentah, dan buruknya tata kelola SDA jadi biang kerok.

 

“Kita kaya tapi miskin manajemen,” tegas ekonom Faisal Basri dalam wawancara Kompas.com beberapa waktu lalu.

 

Perbandingan ini ironis: Iran, dengan PDB per kapita US$4.700 (Bank Dunia 2025), prioritaskan industri pertahanan dan diversifikasi ekonomi, hasilkan surplus perdagangan US$20 miliar. Indonesia, PDB per kapita US$5.100, gagal lepas dari jebakan utang karena pemborosan infrastruktur dan subsidi BBM tak tepat sasaran.

 

Pakar geopolitik Andi Widjajanto menilai, “Iran ajarkan Indonesia: kedaulatan bukan dari pinjaman, tapi inovasi dan disiplin fiskal.”

 

Negara kaya sumber daya alam (SDA) seperti Indonesia justru mengalami kemiskinan massal, hutang menumpuk, dan pertumbuhan ekonomi lambat. Kegagalan Indonesia mengubah kekayaan nikel, bauksit, emas, Batubara dan minyak sawit untuk kesejahteraan rakyat belum tercapai, Akibat korupsi, dan buruknya tata kelola.

 

SDA Indonesia yang seharusnya jadi aset bangsa malah dimanfaatkan pihak luar atau musuh (seperti investor asing tak terkendali atau elite korup).

 

Apakah Indonesia siap tiru model Iran untuk bangkit ? Pemerintah Prabowo diminta reformasi SDA agar tak lagi dikuasai investor asing, dan kembali berpihak mensejahterakan rakyat. (*).

Views: 11