Jakarta, Utomo News, Senin 9 Maret 2026-|
Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia kembali memantik kontroversi setelah berkelakar bahwa Lailatul Qadar bagi Golkar adalah ketika kursi partai bertambah. Ucapan itu ia sampaikan di hadapan kader dan jamaah saat peringatan Nuzulul Quran dan buka puasa bersama di Masjid DPP Golkar, Jakarta Barat, Jumat, 6 Maret 2026.
Dalam sambutannya, Bahlil mula-mula menggambarkan fase akhir Ramadan dengan analogi perjalanan matahari dan usia manusia yang mendekati “jam 12” sebagai pengantar menuju Lailatul Qadar. Ia lalu menutup bagian itu dengan kelakar bahwa “bagi Partai Golkar, Lailatul Qadar itu kalau kursi tambah”, yang disambut tawa para hadirin.
Latar: Sakralitas Lailatul Qadar vs Candaan Politik
Lailatul Qadar dalam tradisi Islam dipahami sebagai malam turunnya Al-Quran dan momentum spiritual paling sakral di bulan Ramadan, yang diyakini lebih baik dari seribu bulan.
Ketika istilah sarat kesucian ini dipelesetkan menjadi simbol penambahan kursi politik, banyak kalangan menilai Bahlil telah mengaburkan batas antara wilayah sakral agama dan kalkulasi pragmatis kekuasaan.
Pengamat politik dan hukum Muslim Arbi menilai kelakar Bahlil berpotensi menyinggung nilai-nilai sakral dalam ajaran Islam dan bahkan dinilai bisa dikategorikan sebagai dugaan penistaan agama.
Di ruang publik, pernyataan itu memicu kritik warganet dan aktivis yang mempertanyakan sensitivitas seorang ketua umum partai yang memadukan istilah Lailatul Qadar dengan target kursi legislatif.
Ambisi Kursi dan Taruhan Nasib Golkar di Tangan Bahlil
Ucapan Bahlil tentang “Lailatul Qadar kalau kursi tambah” tidak berdiri sendiri, melainkan konsisten dengan obsesinya pada kenaikan kursi Golkar di pemilu mendatang. Sebelumnya, Bahlil sudah menegaskan bahwa dirinya siap mundur dari kursi ketua umum jika perolehan kursi Golkar pada Pemilu 2029 tidak meningkat dari hasil Pemilu 2024.
Di sisi lain, sejumlah survei dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan elektabilitas Golkar sempat merosot dan turun peringkat, dari posisi dua menjadi tiga dengan kisaran dukungan sekitar 12 persen. Dalam konteks ini, kelakar Bahlil di malam Nuzulul Quran bisa terbaca sebagai cermin cara pandang yang sangat instrumentalis: seluruh momentum, bahkan yang religius dan sakral, dipakainya untuk menegaskan target kursi sebagai ukuran “malam istimewa” bagi Golkar.
Bagi pengkritik, keberanian Bahlil menyeret istilah Lailatul Qadar ke dalam candaan politik justru dibaca sebagai sinyal krisis orientasi di tubuh Golkar. Alih-alih menguatkan citra religius dan kedekatan dengan basis pemilih Muslim, gaya humor seperti itu dinilai berpotensi menggerus kepercayaan publik dan menjadi salah satu faktor yang bisa mempercepat kemerosotan Golkar jika dibiarkan tanpa koreksi.
Reaksi dan Potensi Dampak Politik
Sejumlah komentar publik dan pengamat menilai Bahlil semestinya meminta maaf dan memberikan klarifikasi lugas, mengingat pernyataannya dilontarkan di forum resmi keagamaan yang disiarkan luas. Mereka mengingatkan bahwa di tengah kompetisi ketat elektoral dan tren penurunan elektabilitas, blunder simbolik terkait agama dapat menjadi beban tambahan bagi citra Golkar di mata pemilih yang sensitif terhadap isu keagamaan.
Di internal partai, pernyataan itu juga berpotensi menguji batas toleransi kader senior yang selama ini berjuang mempertahankan citra Golkar sebagai partai nasionalis-religius dengan akar sejarah panjang.
Jika kritik publik mengeras dan tidak direspons dengan perbaikan sikap, kelakar Bahlil soal Lailatul Qadar justru bisa dikenang sebagai salah satu titik balik yang menandai fase kemunduran, bukan kebangkitan, Partai Golkar di bawah kepemimpinannya. (Hari’S).
Views: 41












