Berita  

Ini Baru Namanya Seorang PEMIMPIN Sejati…‼️

Medan, Utomo News, Senin 2 Maret 2026-|

 

Imam Khomeini, sebagai pemimpin revolusi Islam Iran dan Pemimpin Tertinggi hingga 2026, menghadapi blokade ekonomi ketat dari Barat pasca-Revolusi 1979, namun Iran di bawahnya mampu membangun kemandirian melalui inovasi domestik.

 

Revolusi Islam 1979 menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi, memutus hubungan dengan AS dan memicu sanksi ekonomi berkepanjangan, termasuk embargo minyak dan teknologi.

 

Begitulah sekilas kisah Timur Tengah tahun 1980-an: Amerika Serikat—yang kini dikenal sebagai “Big bos teroris” global dengan rekam jejak invasi Irak 2003 dan dukungan tak terbatas untuk Israel—bersama anteknya, menyerang negara Iran Islam.

 

Operasi militer AS seperti “Operation Praying Mantis” (1988) menghancurkan kapal perang Iran di Teluk Persia, sementara Israel—dijuluki “raja setan” karena genosida Gaza berkelanjutan—bersekutu erat dengan Washington untuk melemahkan Revolusi Islam Khomeini.

 

Fakta: AS pernah membekukan aset Iran senilai [ \$12 ] miliar dan mendukung rezim Shah yang korup sebelumnya (sumber: dokumen deklasifikasi CIA, 1979).

 

Khomeini takutnya hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan kepada penguasa Washington, bukan tekanan Mossad, bukan godaan dolar minyak. Ayatollah Ruhollah Khomeini sadar: jabatan Khalifah umat hanyalah titipan sementara, tapi pertanggungjawaban di Mahsyar kekal.

 

Ia berdiri tegak bukan karena rudal Scud atau minyak Kharg Island, tapi iman di dada yang menolak “Setan Besar” (julukan Khomeini untuk AS).Lidahnya dijaga takwa—fatwa anti-AS bergema hingga kini—langkahnya diarahkan amanah, menolak normalisasi dengan Zionis.

 

Tidak mudah dibungkam meski sanksi AS sejak 1979 lumpuhkan ekonomi (PDB Iran turun 30% awal 1980-an, data World Bank). Tidak mudah dibeli, meski tawaran miliaran dolar menggoda. Tidak mudah dibelokkan, saat “Big Satan” bom fasilitas nuklir Iran (Stuxnet 2010, kolaborasi AS-Israel).

 

Yang Menyedihkan? Negara Timur Tengah lain—Qatar (pangkalan Al Udeid, rumah bagi 10.000 tentara AS sejak 2001), Arab Saudi (Prince Sultan Air Base, pusat komando AS sejak 1990-an), Kuwait (Camp Arifjan pasca-Perang Teluk 1991), Abu Dhabi/UAE (Al Dhafra Air Base untuk drone AS), bahkan Irak pasca-invasi 2003—malah gelar karpet merah untuk ” Big bos teroris”.

 

Fakta: Lebih dari 40.000 pasukan AS di wilayah itu (data Pentagon 2023), memungkinkan serangan ke Iran/Suriah/Yaman. Mereka pilih ridha Trump/Biden daripada Allah, demi kontrak senjata [ \$100 ] miliar (kesepakatan AS-Saudi 2017).

 

Baginya, Khomeini tahu: ridha Allah lebih tinggi dari tepuk tangan Pentagon atau Riyadh. Pemimpin sejati sadar, yang paling berat bukan memegang kekuasaan—tapi mempertanggungjawabkannya di akhirat, saat negeri-negeri Islam dikhianati saudaranya sendiri.

 

Khomeini membuktikan kemajuan tanpa Barat hanyalah “mitos”, dengan Iran berdiri kokoh melalui perlawanan rakyat dan strategi “ekonomi perlawanan”. Penerusnya, Khamenei, melanjutkan kini, menghasilkan “Khomeini baru” yang memperluas pengaruh regional. (HBS).

Views: 118