Deliserdang, Utomo News Jum’at 30 Januari 2026 – |
Bayangkan Madinah di malam yang kelam, angin gurun menusuk tulang seperti pisau dingin, menyusup ke setiap celah rumah sederhana para sahabat. Di era Rasulullah SAW, hidup kaum muslimin adalah simfoni perjuangan: harta langka seperti air di padang pasir, makanan seadanya, dan hari-hari dipenuhi boikot, pengusiran, serta pertempuran iman melawan lapar.
Masyarakat yang baru bangkit dari kegelapan jahiliyah ini, masih bergulat dengan kemiskinan kolektif—di mana satu butir kurma bisa menentukan hidup atau mati.
Di tengah himpitan sosial itu, sebuah peristiwa kecil lahir, yang getarannya tak terhenti di bumi, melainkan naik menembus lapisan langit, hingga Sidratul Muntaha, pohon akhirat tempat malaikat dan wahyu bertemu Tuhan.
Rumah nabi Muhammad Rasulullah SAW berdiri sebagai mercusuar ketenangan di antara gemuruh kelaparan. Tiba-tiba, tirai pintu bergoyang ditiup angin malam. Seorang tamu asing muncul, sosok kurus kering seperti ranting pohon kurma yang haus, wajahnya pucat pasi, matanya cekung menyirat derita panjang.
Langkahnya goyah, seolah angin apa pun bisa merobohkannya ke tanah Madinah yang gersang. Dengan suara serak yang nyaris putus asa, ia merintih, “Ya Rasulullah… aku lapar.”
Pandangan Rasulullah SAW penuh rahmat ilahi, tapi kenyataan pahit menampar: bahkan di rumah beliau, tak ada sepotong roti pun malam itu. Beliau berseru kepada para sahabat, suaranya bergema seperti panggilan jihad sosial, “Siapa di antara kalian yang mau menjamu tamu ini? Semoga Allah merahmatinya.”
Hening menyelimuti majelis, tatapan saling silang di antara para pahlawan yang harta mereka tak lebih dari puing-puing perjuangan. Kemiskinan bukan sekadar nasib individu, tapi luka bersama umat yang baru saja lepas dari belenggu Quraisy.
Lalu, seperti petir menyambar kegelapan, Abu Thalhah al-Anshari bangkit tegar. “Aku, wahai Rasulullah!” serunya tanpa ragu sedetik pun. Ia membawa tamu itu ke rumahnya, di mana Ummu Sulaim—istrinya yang mulia—menyambut di ambang pintu dengan senyum lelah, tapi mata berbinar iman.
Abu Thalhah berbisik pelan, “Ini tamu dari Rasulullah.” Ummu Sulaim menundukkan wajah, tahu betul stok makanan mereka hanya secuil roti untuk anak-anak mereka sendiri—cukup untuk menahan lapar semalam, tapi tak lebih.
Di masyarakat Madinah yang saling berbagi, ini adalah taruhan jiwa: lapar demi orang lain. Namun, tatapan Abu Thalhah menyirat pesan suci: “Ini kesempatan kita berbagi, mencintai Allah lebih dari nafsu perut.” Ummu Sulaim membalas dengan keyakinan baja, suaranya lembut tapi penuh tekad, “Kita akan memuliakannya. Sebisanya, demi Ridha-Nya.”
Anak-anak kecil mereka dipanggil, dibelai dengan kasih sayang, lalu ditidurkan lebih awal agar tak merengek minta makan—pengorbanan diam yang menusuk hati. Di dapur reyot, Ummu Sulaim menyajikan roti sisa itu, secuil harapan di tengah kekurangan.
Abu Thalhah berbisik lagi, strategi cerdik lahir dari iman: “Matikan lampu nanti… seakan kita ikut makan bersamanya.” Saat hidangan disuguh, pelita minyak mulai redup—Ummu Sulaim berpura-pura memperbaikinya, padahal sengaja memadamkannya. Ruangan gelap gulita, hanya suara kunyahan tamu yang lahap memecah sunyi.
“Gerakkan tanganmu seolah kau makan,” bisik Abu Thalhah. Mereka berdua hanya mengaduk udara, perut keroncongan tapi hati banjir syukur. Tamu itu puas, tak sadar tuan rumahnya menahan lapar demi kehormatannya.
Di masyarakat yang penuh ujian sosial ini, perbuatan kecil mereka jadi simbol: berbagi bukan soal banyaknya, tapi keikhlasan yang menggetarkan surga.
Pagi menyingsing, Abu Thalhah menghadap Rasulullah SAW. Wajah Nabi berseri, senyumnya seperti cahaya fajar yang membuat Abu Thalhah tersentak. “Allah tertawa (senang) melihat perbuatan kalian berdua terhadap tamu kalian tadi malam!” kata Beliau dengan takjub yang menggetarkan.
Saat itu, wahyu turun bagai petir ilahi, abadi hingga kiamat: “Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka, sekalipun mereka sendiri dalam kesusahan.” (QS. Al-Hasyr: 9)
Di rumah kecil itu, sepasang suami-istri mengorbankan yang terakhir mereka miliki.
Perbuatan kecil di bumi Madinah—hanya roti secuil dan gelap malam—bergetar naik, melewati tujuh langit, hingga Sidratul Muntaha, di mana Allah SWT tersenyum puas. Kisah ini bukan sekadar dongeng; ia tamparan sosial bagi kita hari ini: di tengah hiruk-pikuk kemewahan palsu, mungkinkah perut kosong kita bergema hingga Arsy?
(Reporter; Hasan Basri Siregar KA Biro Utomo News Deli Serdang).
Views: 8













