Jangan Pamer Harta Dunia, Siapkah Bertanggungjawab di Hadapan Allah?

 

Deliserdang, Utomo News, 24 Januari 2026 – |

Di tengah gemerlap media sosial yang dipenuhi pameran mobil mewah, rumah megah, dan liburan eksotis, banyak orang lupa satu hakikat abadi: hidup di dunia bukanlah panggung untuk memamerkan apa yang kita peroleh, melainkan ujian berat untuk mempertanggungjawabkan yang didapat setiap nikmat itu di akhirat.

Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan dalam Surah Al-Hadid ayat 20: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kamu serta berbangga-banggaan tentang harta dan anak-anak…” Ayat ini seperti cambuk yang menghantam kesombongan kita, menyatakan bahwa harta dan prestasi duniawi tak lebih dari fatamorgana yang lenyap, sementara hisab akhirat menanti dengan azab atau ampunan.

Bayangkan betapa ironisnya: seorang pejabat korup memamerkan jam tangan milyaran rupiah di Instagram, atau influencer yang sombong dengan jet pribadi, seolah-olah itu bukti kesuksesan.

Padahal, Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Muslim: “Dua perkara yang manusia binasa karenanya: takut miskin dan tamak harta.” Lebih pedih lagi, hadits qudsi dari Imam Ahmad: “Kekayaan itu bukanlah diukur dari banyaknya harta, tapi kekayaan sejati adalah kekayaan jiwa.”

Ini bukan sekadar nasihat, tapi peringatan keras bahwa setiap rezeki—entah gaji halal dari kerja keras atau warisan keluarga—harus dipertanggungjawabkan. Apakah kita menggunakannya untuk sedekah, infak, atau justru menumpuknya untuk pamer, melanggar perintah Allah.

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 261: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai…”?

Narasi ini semakin relevan di Indonesia saat ini, di mana budaya “flexing” merajalela di platform seperti Instagram dan TikTok, terutama di kalangan muda urban di Medan dan sekitarnya. Data dari survei Kemenag 2025 menunjukkan 68% generasi Z terpengaruh gaya hidup konsumtif, yang justru menjauhkan dari esensi iman.

Padahal, para sahabat Nabi seperti Abu Bakar ra. mencontohkan: beliau membagikan seluruh hartanya untuk fakir miskin tanpa pamrih untuk pamer. Begitu pula Umar bin Khattab ra., yang mengubah Baitul Mal menjadi instrumen keadilan, bukan alat kesombongan.

Di akhirat, Allah SWT akan bertanya, sebagaimana firman-Nya dalam Surah At-Takathur ayat 1-2: “Kehangatan kamu (dengan kesibukan dunia) telah melalaikan kamu sehingga kamu melupakan akhirat…” Apakah kita siap jawab saat malaikat pencatat amal membuka lembaran hitam itu?

Jadikanlah dunia ini sebagai jembatan menuju surga, bukan jebakan neraka. Berhentilah pamer, mulailah hitung rezeki untuk akhirat. Sebagaimana sabda Nabi SAW: “Barangsiapa yang pagi hari hanya memikirkan akhirat, maka Allah akan berikan kecukupan baginya di dunia.” (HR. Tirmidzi). Mari renungkan, sebelum terlambat. ***.

(Hasan Basri Siregar KA Biro Utomo News Deli Serdang).

Views: 8