Ungkapan Socrates, “Seseorang tidak bisa menjadi benar hidupnya jika dibangun di atas kebohongan dan penghianatan,”. Oleh; Hasan Basri Siregar Ketua JWI Deli.

Ungkapan Socrates, “Seseorang tidak bisa menjadi benar hidupnya jika dibangun di atas kebohongan dan penghianatan,”. Oleh; Hasan Basri Siregar Ketua JWI Deli.

 

Deliserdang, (Utomo news, Selasa,18/11/2025)|

 

Filsuf ternama Socrates banyak menyimpan kearifan filsafat yang sangat relevan dalam konteks ilmu pengetahuan modern dan kehidupan sosial saat ini. Mari kita telaah lebih dalam menggunakan pendekatan filsafat sebagai cara memahami kebenaran dan pengetahuan.

 

Dalam filsafat, khususnya epistemologi modern, kebenaran berakar pada kejujuran dan konsistensi antara fakta, keyakinan, dan realitas. Kebenaran bukan hanya sekadar pernyataan yang benar secara faktual, tetapi juga terjalin dalam integritas moral dan kejujuran sebagai fondasi.

 

Jika seseorang membangun hidupnya—baik dalam pemikiran, tindakan, maupun relasi sosial—dengan dasar kebohongan dan pengkhianatan, maka sesungguhnya ia sedang membangun sebuah struktur yang rapuh dan tidak autentik.

 

Dalam konteks ilmu pengetahuan modern, metode ilmiah menuntut keterbukaan, transparansi, dan verifikasi fakta. Ilmu yang dibangun di atas data palsu atau manipulasi tidak hanya gagal mencapai kebenaran objektif, tetapi juga melahirkan kebohongan yang lebih besar.

 

Akibatnya, seluruh sistem pengetahuan itu runtuh dan kehilangan kredibilitas. Ini sejalan dengan kritik Socrates bahwa hidup yang dibangun di atas fondasi kebohongan tidak akan pernah menjadi benar secara hakiki.

 

Lebih jauh, secara etis, kebohongan dan pengkhianatan merusak kepercayaan antarindividu dan lembaga sosial. Kebenaran dalam hubungan sosial berfungsi sebagai perekat yang menguatkan kohesi dan solidaritas masyarakat. Dengan demikian, pelanggaran terhadap kebenaran lewat kebohongan dan penghianatan menggerogoti sendi-sendi kepercayaan publik dan kehidupan bermasyarakat secara luas.

 

Dalam fenomena sosial-politik masa kini, ungkapan Socrates bisa dimaknakan sebagai kritik tajam terhadap praktik manipulasi informasi, ketidakjujuran pejabat, serta perilaku koruptif yang sering terjadi.

 

Seseorang, apalagi yang memimpin atau menjadi panutan publik, tidak akan mampu mempertahankan legitimasi dan martabatnya jika keberadaannya dibangun dari kebohongan dan pengkhianatan terhadap rakyat.

 

Filsafat membimbing kita untuk memahami bahwa kebenaran bukan sekadar hasil akhir, melainkan proses berkelanjutan yang memerlukan keprihatinan moral dan intelektual tinggi. Untuk itu, membangun kehidupan yang benar haruslah berdasarkan kejujuran dan integritas, bukan konstruksi kebohongan dan pengkhianatan yang menyesatkan.

 

Ungkapan Socrates harus menjadi peringatan mendalam bagi setiap individu dan masyarakat modern: jika fondasi hidup dibangun di atas kebohongan dan pengkhianatan, maka kebenaran sejati dan keharmonisan sosial akan selalu terpatahkan.

 

Hanya dengan keberanian untuk jujur dan setia pada kebenaranlah kita dapat mewujudkan kehidupan yang hakiki dan bermakna. ***.

Views: 8