Oleh: Hasan Basri Siregar,
Ketua Jajaran Wartawan Indonesia – JWI Deli Serdang, Senin (6/7/2026).
Deli Serdang, Utomo News-|
Kondisi bangsa saat ini memprihatinkan. Ungkapan “Jujur dan Dipercaya sekarang sudah Langka. Korupsi dan Narkoba Sudah Merajalela” bukan sekadar kritik sosial, melainkan potret realitas yang harus kita hadapi bersama. Yang terjadi justru tren penangkapan di mana-mana, karena kejujuran telah menjadi barang langka.
Sebagai bangsa yang berlandaskan Pancasila dan beragama, kita perlu mengembalikan nilai kejujuran sebagai fondasi politik, sosial, dan kebangsaan.
1. ASPEK AGAMA: KEJUJURAN SEBAGAI AMANAH ILAHI.
Dalam Islam, kejujuran adalah pilar utama akhlak. Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan katakanlah perkataan yang benar”(QS. Al-Ahzab: 70)
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila dipercaya ia berkhianat”(HR. Bukhari dan Muslim)
Korupsi adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah rakyat. Narkoba adalah bentuk penghancuran diri dan generasi. Keduanya lahir dari hilangnya kejujuran dan takut kepada Allah.
2. ASPEK POLITIK: AMANAH KEPEMIMPINAN.
Politik dalam Islam adalah pelayanan, bukan ajang memperkaya diri. Pemimpin adalah penggembala yang akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Sabda Nabi:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya”(HR. Bukhari dan Muslim).
Ketika kejujuran langka di ruang publik, maka yang muncul adalah praktik korupsi berjamaah. Inilah sebabnya penegak hukum sibuk melakukan penangkapan di mana-mana. Negara tidak akan maju jika pengelola negara tidak jujur dan tidak dipercaya rakyat.
3. ASPEK SOSIAL: KERUSAKAN MORAL GENERASI.
Narkoba merajalela karena ada jaringan yang tidak jujur dan karena lemahnya benteng moral keluarga dan masyarakat. Allah mengingatkan:
“Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi”(QS. Al-An’am: 151).
Dampak sosialnya jelas: rusaknya generasi muda, hancurnya rumah tangga, dan meningkatnya kriminalitas. Masyarakat kehilangan kepercayaan satu sama lain karena “kejujuran sudah jadi barang langka”.
4. ASPEK KEBANGSAAN: MEMBANGUN KEMBALI KEPERCAYAAN.
Negara kuat dibangun di atas kepercayaan. Tanpa kejujuran, tidak ada investasi, tidak ada pembangunan, dan tidak ada persatuan.
Oleh karena itu solusinya harus sistemik:
1. Pendidikan karakter sejak dini berbasis Al-Qur’an dan Hadis
2. Penegakan hukum tanpa tebang pilih terhadap koruptor dan bandar narkoba
3. Keteladanan pemimpin dari pusat sampai desa
4. Peran pers dan ormas untuk mengawal dan mencerdaskan bangsa
PENUTUP.
Kita tidak boleh pasrah. Jika kejujuran sudah langka, maka kitalah yang harus menanam dan menyebarkannya kembali. Mari kita mulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan kerja.
Sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”(QS. Ar-Ra’d: 11)
Hanya dengan kejujuran, bangsa ini bisa keluar dari jerat korupsi dan narkoba. Dan hanya dengan kepercayaan, pembangunan bisa berjalan untuk mewujudkan Indonesia Sumatera Utara, dan Deli Serdang yang berkah.
Wallahu a’lam bishawab.
Hasan Basri Siregar, Ketua JWI Deli Serdang.
Views: 6












