Berita  

“Krisis Tabayyun”: Ancaman Dekadensi Moral vs Fluktuasi Ekonomi dalam Perspektif Sosial Islam.  Oleh: Hasan Basri Siregar, Ketua JWI Deli Serdang | 9 Juni 2026

 

 

Deli Serdang, Utomo News–|

 

1. Pendahuluan: Menggeser Objek Kecemasan Sosial. 

 

Pernyataan “Bukan nilai rupiah yang anjlok ke dolar kita takutkan, tapi nikmat ilmu yang dicabut Allah kita khawatirkan” mencerminkan pergeseran paradigma kecemasan masyarakat. Dalam kajian sosiologi Islam, fenomena ini disebut sebagai “degradasi modal sosial-spiritual”. 

 

Fluktuasi ekonomi seperti kurs dolar ke Rp 18.000,merupakan crisis of resources. Namun pencabutan ilmu yang menyebabkan “kita tak lagi bisa membedakan mana yang benar mana yang salah” adalah crisis of orientation. Krisis orientasi jauh lebih destruktif karena meruntuhkan fondasi tatanan sosial, sementara krisis sumber daya masih dapat disiasati secara teknis.

 

2. Kerangka Qur’ani: Ilmu sebagai Pijakan Kebenaran Sosial. 

 

Al-Qur’an menempatkan ilmu sebagai instrumen utama pembeda haq dan bathil. Allah berfirman:

 

*يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ*  

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat”

 

Derajat yang dimaksud ulama tafsir bukan hanya status akhirat, tapi juga kapasitas sosial: kemampuan menimbang, memutuskan, dan memimpin. Ketika nikmat ilmu dicabut, yang terjadi adalah “tahayyur” kebingungan kolektif. Masyarakat kehilangan compass moral sehingga pejabat berpendidikan tinggi pun “kesandung korupsi”. Ini bukan gagal ekonomi, tapi gagal epistemologi.

 

Rasulullah ﷺ telah mengisyaratkan dalam hadis shahih:  

*إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ… حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا*  

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan sekali cabut dari hamba, tetapi mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama… hingga ketika tidak tersisa orang alim, manusia mengangkat pemimpin-pemimpin bodoh. Mereka ditanya lalu berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan”.

 

Frase “berilmu berbanding sejuta orang dungu” sejalan dengan logika hadis ini: 1 orang berilmu yang istiqamah dapat menyelamatkan sistem sosial, sedangkan sejuta orang tanpa bashirah akan menciptakan chaos struktural.

 

3. Analisis Sosial: Korupsi Elit sebagai Gejala “Jahl Murakkab”.

 

Fenomena pejabat berijazah tinggi terlibat korupsi adalah wujud “jahl murakkab” kebodohan yang merasa pintar. Sosiolog Islam menyebutnya “anomie moral”: ketika status, jabatan, dan gelar akademik tidak ditopang akhlaqul karimah dan fiqh al-waqi’, maka yang lahir adalah rasionalitas instrumental murni. 

 

Tujuan hidup direduksi jadi akumulasi. Maka jabatan dipakai untuk korupsi, ilmu dipakai untuk pembenaran, dan dalil dipakai untuk legitimasi bathil. Inilah yang dikhawatirkan Allah dalam QS. Al-Hujurat: 6 tentang pentingnya tabayyun sebelum bertindak. Tanpa ilmu, verifikasi kebenaran lumpuh.

 

4. Kesimpulan: Prioritas Kebijakan Publik Islam. 

 

Pernyataan “Lebih baik 1 dolar berbanding 100 ribu, ketimbang 1 orang berilmu, berbanding sejuta orang dungu” adalah tesis kebijakan. Negara boleh miskin secara rupiah, tapi tidak boleh miskin secara bashirah.

 

Maka prioritas pembangunan sosial masyarakat harus: 

1. Memperkuat ekosistem ilmu: pesantren, majelis taklim, literasi media, seperti program “3 Detik Anti-Hoaks” yang menanamkan tabayyun.

2. Memuliakan ulama & guru: karena pencabutan ilmu terjadi lewat wafatnya mereka tanpa regenerasi.

3. Menegakkan integritas: karena ilmu tanpa amanah melahirkan koruptor terdidik.

 

Penutup:  

Keruntuhan ekonomi bisa dipulihkan dengan kebijakan fiskal. Tapi keruntuhan moral karena hilangnya ilmu hanya bisa dipulihkan dengan tarbiyah dan tajdid. Karena itu, ketakutan terbesar umat bukanlah dolar naik, melainkan ketika kita sudah tidak bisa lagi bertanya: “Ini halal atau haram? Ini benar atau salah?” (*). 

 

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Views: 17