Medan, Utomo News, Jum’at, 1/5/2026 – |
Oleh; Hasan Basri Siregar.
Selama 47 tahun, Iran menghadapi embargo ekonomi ketat, fitnah media Barat, dan isolasi internasional pasca-Revolusi Islam 1979. Narasi dominan Barat sering menggambarkan Iran sebagai ancaman Syiah yang radikal, tapi penelusuran mendalam dari berbagai sumber kredibel mengungkap fakta terbalik: Iran justru jadi benteng pertahanan negara-negara Islam, termasuk melindungi Muslim Sunni di Bosnia, Lebanon, Yaman, dan Palestina secara istiqomah.
Embargo dimulai sejak 1979 oleh Amerika Serikat dan sekutunya, yang melarang perdagangan senjata, teknologi nuklir, dan aset keuangan senilai miliaran dolar—menurut laporan PBB, sanksi ini telah merugikan Iran hingga US$1 triliun hingga 2023 (sumber: Council on Foreign Relations).
Media Barat seperti CNN dan BBC kerap soroti program nuklir Iran sebagai “ancaman global”, sambil abaikan kontribusi kemanusiaannya. Padahal, data dari Human Rights Watch dan laporan OSCE menunjukkan peran krusial Iran di konflik Bosnia 1992-1995: Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) kirim bantuan senjata dan pelatih ke Tentara Republik Bosnia-Herzegovina (ARBiH), mayoritas Sunni, saat sekutu Barat seperti AS tolak intervensi karena politik (sumber: BBC History, 2015).
Konsistensi ini berlanjut hingga kini. Di Palestina, Iran salurkan bantuan tahunan US$100 juta ke Hamas dan Jihad Islam via proxy seperti Hizbullah, termasuk rudal dan dana rekonstruksi Gaza pasca-serangan Israel—fakta yang dikonfirmasi laporan SIPRI (Stockholm International Peace Research Institute) 2024.
Di Yaman, dukungan Iran ke Houthi (Ansar Allah) cegah invasi Saudi penuh, lindungi pelabuhan Hodeidah yang vital untuk bantuan PBB. Lebanon? Hizbullah, didukung Iran, tahan serangan Israel di perbatasan selatan, jaga kedaulatan negara itu dari pengaruh AS-Israel.
“Hampir di semua negara Islam, Iran hadir via proxy-nya untuk jaga kedaulatan dari siasat jahat Amerika dan sekutunya,” ujar analis Timur Tengah Dr. Ali Akbar dari Universitas Teheran dalam wawancara Al Jazeera 2025.
Bahkan di Afrika dan Asia Tengah, Iran bantu Irak Syiah-Sunni pasca-ISIS, dan Suriah melawan kelompok ekstremis.
Bagi Indonesia, negara Muslim terbesar dunia, peluang kerjasama mencolok. Hubungan diplomatik Iran-Indonesia sejak 1952 kian erat: impor minyak Iran capai 500.000 barel per hari ke RI (data BPS 2025), dan latihan militer bersama di Teheran 2024.
Jika Indonesia berpihak tegas ke Iran—misalnya tolak sanksi AS atau gabung Axis of Resistance—analis seperti Prof. Hikmahanto Juwana (UI) prediksi Iran prioritaskan perlindungan RI dari ancaman geopolitik Laut China Selatan atau pengaruh Cina-AS. “Masya Allah, tabarakallah—ini benteng Islam sejati,” tulis netizen di X pasca-serangan Israel ke Gaza baru-baru ini.
Dunia mulai sadar: Saat Barat sibuk embargo, Iran bangun solidaritas Islam lintas mazhab. Apakah Indonesia siap jadi bagiannya? (*)
(Sumber: PBB, SIPRI, CFR, Al Jazeera, BBC. Fakta diverifikasi per 1 Mei 2026)
Views: 14












