Dari Kuli Kontrak 1898 ke Kuli Modern 2026: Warga Deli Serdang “Dikontrak” Jadi Buruh Kasar, Pegiat Sosmed Desak Mandiri!
Lubuk Pakam,Utomo news – |
Sebuah perbandingan pedas dilontarkan pegiat media sosial Rahmat di Lubuk Pakam, Jumat (10/4/2026). “Dulu tahun 1898, Cina kuli kontrak datang ke Deli Serdang. Sekarang, orang Deli Serdang sendiri dikontrak jadi kuli disuruh-suruh,” ujarnya saat menyuarakan keresahan warga lokal di kawasan tersebut.
Menurut Rahmat, situasi ini mencerminkan kemunduran ekonomi kaum pribumi di tengah dominasi pekerja migran. Ia menuding pemilik “kandang Wong Cino” – istilah yang merujuk pada peternakan ayam milik pengusaha keturunan Tionghoa – merekrut warga Pantai Labu untuk pekerjaan kasar seperti angkat telur, jaga kandang, dan bongkar muat di SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia).
Tak berhenti di situ, warga lokal juga “disuruh” memasang pagar di Pantai Remis, semuanya dalam skema kontrak buruh yang merendahkan martabat.
Fenomena ini bukan kasus terisolasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Deli Serdang 2025 menunjukkan tingkat pengangguran terbuka di wilayah ini mencapai 7,2%, dengan sektor pertanian dan peternakan mendominasi lapangan kerja informal.
Sementara itu, sektor peternakan unggas di Sumut menyumbang Rp 15 triliun per tahun (data Dinas Pertanian Sumut 2025), tapi keuntungan besarnya mengalir ke investor luar daerah. Warga lokal terjebak sebagai buruh harian dengan upah di bawah Upah Minimum Kabupaten (UMK) Deli Serdang Rp 3,5 juta/bulan, sering tanpa BPJS atau perlindungan hukum.
Rahmat menyoroti ironi sejarah: Pada era kolonial, kuli kontrak Tionghoa dibawa untuk perkebunan tembakau Deli, meninggalkan warisan ketimpangan. Kini, putra daerah mengulang nasib serupa di negerinya sendiri. “Ini bukan isu ras, tapi soal ketergantungan ekonomi.
Kaum pribumi harus bangkit mandiri agar tak jadi budak kontrak lagi,” tegasnya.
Solusi Mandiri untuk Kaum Pribumi: Bangun Ekosistem Ekonomi Sendiri
Untuk keluar dari lingkaran ini, Hari’S pengamat sosial menimpali, mengusulkan langkah konkret berbasis fakta dan data lokal:
Koperasi Peternakan Pribumi: Bentuk koperasi warga Pantai Labu dan Lubuk Pakam untuk ternak ayam potong skala kecil. Contoh sukses: Koperasi Tani Maju di Simalungun untung Rp 2 miliar/tahun dari 5.000 ekor ayam (data Disnak Sumut 2024). Modal awal bisa dari pinjaman KUR BRI dengan bunga 6%.
Lebih lanjut haris menambahkan, buat Pelatihan Skill dan Sertifikasi: Ikut program pelatihan gratis Dinas Tenaga Kerja Deli Serdang, fokus pengolahan telur dan pakan ternak. Target: 500 warga tersertifikasi dalam 6 bulan, ciptakan lapangan kerja mandiri dengan margin 30-40%.
Akses Pasar Digital: Jual hasil panen via e-commerce seperti Shopee Agri atau Tokopedia Tani. Data BKPM 2025: Penjualan online peternak Sumut naik 150% pasca-pandemi. Kolaborasi dengan Bulog untuk pasok telur murah ke pasar tradisional.
Advokasi Hukum: Libatkan Dinas Ketenagakerjaan dan SPSI resmi untuk audit kontrak buruh. tuntut upah layak dan hak cuti sesuai UU No. 13/2003.
Langkah ini tak hanya ciptakan kemandirian ekonomi, tapi juga rebut kendali dari sektor strategis seperti peternakan.
“Pribumi Deli Serdang punya tanah subur dan semangat juang. Saatnya ubah sejarah dari kuli kontrak jadi pengusaha!” pungkas Haris. ( Tim JWI).
Views: 94












