Berita  

Lavrov Tampar Pemimpin Arab: Lebih Takut Trump dan Netanyahu daripada Allah!

 

Medan,Utomo news, Senin, 23 Maret 2026 –|

 

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, melontarkan kritik pedas yang mengguncang dunia Arab. Dalam pernyataannya baru-baru ini, Lavrov menyindir para pemimpin negara-negara Arab yang tampak lebih gentar menghadapi tekanan dari Presiden AS Donald Trump dan Israel ketimbang rasa takut kepada Allah SWT, Pemilik semesta alam.

 

Sindiran ini bukan sekadar serangan politik, melainkan tamparan spiritual yang menyingkap kelemahan iman di tengah konflik Timur Tengah yang membara.

 

Lavrov menyatakan hal ini di tengah eskalasi perang antara Iran dan koalisi pimpinan AS-Israel. “Tabir tersingkap,” katanya, merujuk pada sikap negara-negara Arab seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain yang enggan bergabung dalam front persatuan melawan Israel meski Iran digempur habis-habisan.

 

Data dari laporan Human Rights Watch (2025) dan Council on Foreign Relations menunjukkan, ketiga negara ini telah menormalisasi hubungan dengan Israel melalui Abraham Accords sejak 2020, dipicu tekanan Trump yang mengancam sanksi ekonomi jika tidak patuh.

 

Fakta geopolitik semakin menguatkan kritik Lavrov. Pada 2024, AS memberlakukan sanksi ketat terhadap negara-negara Teluk yang dekat dengan Iran, menyebabkan penurunan ekspor minyak Saudi hingga 15% (sumber: OPEC Annual Report 2025).

 

UEA dan Bahrain, yang bergabung IPEF (koridor ekonomi Israel-Arab), menerima bantuan militer AS senilai $3 miliar pada 2025 (data Pentagon). Sementara itu, serangan Israel ke Lebanon dan Suriah—didukung jet tempur F-35 dari AS—membuat Iran kehilangan 40% infrastruktur rudal (laporan SIPRI 2026).

 

Negara Arab? Diam seribu bahasa, lebih memilih aliansi demi stabilitas ekonomi daripada jihad melawan “raja setan” seperti yang disebut Lavrov.

Realitas pahit ini mencerminkan prioritas duniawi di atas prinsip ketuhanan.

 

Laporan Pew Research Center (2024) mengungkap, 62% warga Arab Saudi dan UEA mengakui tekanan ekonomi AS-Israel memengaruhi kebijakan luar negeri mereka, meski 78% tetap mengaku Muslim taat.

 

Lavrov menekankan: “Mereka takut sanksi Washington atau Tel Aviv lebih dari murka Allah yang mengatur langit dan bumi.” Kritik ini viral di media sosial Arab, memicu perdebatan sengit tentang pengkhianatan umat.

 

Konflik ini menandai pergeseran besar: negara Arab kini jadi pion dalam peta kekuasaan global, bukan benteng pertahanan Islam. Apakah ini akhir dari solidaritas Arab, atau sinyal bangkitnya perlawanan sejati?  (Hari’S).

Views: 22