Berbuat Baik: Antara Ketulusan Hati dan Kepentingan Duniawi dalam Perspektif Al Qur’an dan Hadits. Oleh; Hasan Basri Siregar Ketua JWI Deli Serdang.

 

Deliserdang, (Utomo news, Sabtu, 15/11/2025) |

Melakukan kebaikan menjadi cermin mulia bagi setiap umat manusia, namun di balik perbuatan baik kerap tersimpan dua motivasi berbeda: ketulusan hati dan kepentingan pribadi.

Dalam pandangan Islam, seperti yang diajarkan oleh Al Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW, motif di balik perbuatan baik sangat menentukan nilai dan pahala dari amal tersebut.Dalam Al Qur’an, ketulusan dalam berbuat baik digambarkan sebagai perbuatan yang ikhlas semata karena mengharap ridha Allah SWT.

Sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bagi mereka pahala yang besar” (QS. Al-Kahfi: 30). Ini menunjukkan bahwa amal perbuatan yang lahir dari niat suci mendapat ganjaran penuh.

Sebaliknya, ada pula mereka yang berbuat baik dengan niat tersembunyi, seperti mengharapkan pujian, keuntungan duniawi, atau memperkuat posisi sosial.

Dalam hadits juga disebutkan, “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya…” (HR. Bukhari dan Muslim). Hal ini mengingatkan bahwa walaupun perbuatan terlihat baik secara lahiriah, pahala dan keberkahan akan bergantung pada niat di baliknya.

Fenomena ini semakin relevan pada era modern di mana banyak kegiatan sosial dan amal kerap disertai motif tertentu, termasuk politis atau ekonomi. Namun, nilai sejati mengabdi pada sesama datang dari ketulusan yang tanpa pamrih.

Ulama menegaskan bahwa ketulusan adalah kunci dibukanya pintu rahmat dan berkah dari Allah SWT.Dengan demikian, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam konteks sosial yang luas, menguatkan niat dalam berbuat baik agar semata-mata untuk Allah menjadi fondasi utama agar amal terbebas dari sifat riya’ dan mendapatkan keberkahan hakiki. ***.

Views: 11