Medan, Utomo News, Selasa, 28/4/2026-|
Oleh; Hasan Basri Siregar.
Di tengah hiruk-pikuk perang informasi modern, Iran justru kembali ke taktik purba untuk menjaga keamanan perintah rahasia. Saat dunia bergantung pada sinyal digital yang mudah dilacak musuh, strategi sederhana ala zaman kuno ternyata lebih unggul—pesan tulis tangan via kurir terpercaya, tanpa jejak elektromagnetik.
Bayangkan perbandingannya: di medan perang kuno seperti era Romawi atau Persia, jenderal mengirim perintah via gulungan papirus atau kulit binatang, dibawa kuda pengantar lewat jalur rahasia. Musuh sulit mendeteksi karena tak ada sinyal radio atau satelit. Hasilnya? Komando tetap aman, strategi terjaga.
Sementara di era digital saat ini, satu pesan WhatsApp atau email bisa tertangkap radar siber AS atau Israel—lokasi terlacak via metadata, server diretas, bahkan drone mengintai. Inilah kelemahan “canggih” teknologi: segala yang terhubung, mudah dibobol.
Masuklah Mojtaba Khamenei, putra ketua tertinggi Iran yang kini pegang kendali di balik layar. Jarang muncul publik, ia gunakan metode low-tech: pesan ditulis tangan, disegel amplop, dikirim motor kurir lewat rute terpencil. Tak ada pidato, rekaman, atau konferensi—hanya keputusan diam-diam yang arahkan respons Iran lawan ketegangan dengan Barat.
Perbandingan mencolok: zaman kuno, Xerxes Persia kirim 2.500 km perintah via kurir kuda Royal Road (sekitar 500 SM), capai kecepatan 80 km/hari tanpa radar. Musuh buta, strategi aman—seperti Marathon atau Thermopylae.
Kini, era digital gagal total: pesan Signal atau Telegram langsung ketahuan via PRISM NSA, yang pantau 200 juta pesan/hari (dokumen Snowden 2025 update). Serangan siber Israel Stuxnet 2.0 (Oktober 2025) lumpuhkan Natanz, tapi gagal tangkap komando Khamenei karena… tak ada sinyal!
Laporan intelijen ungkap, pejabat tinggi Iran batasi interaksi langsung pasca-serangan sebelumnya yang tinggalkan luka fisik. Tujuannya jelas: hindari pelacakan GPS atau sinyal ponsel.
Di saat dunia “bising” informasi, kekuatan sunyi ini jaga kendali utuh, buktikan bahwa dalam perang siber, primitif justru superior.
Pendekatan ini ingatkan: secanggih apapun AI dan satelit, kurir kuno tetap tak tertandingi untuk operasi rahasia. (*).
Views: 14












