Berita  

PBB: Penjaga Perdamaian yang Hanya Bisa Berduka, Bukan Berperang, Oleh ; Hasan Basri Siregar, Ketua JWI DS. 

 

Medan, Utomo news, Minggu 5/4/2026-|

 

Di panggung dunia yang penuh kemunafikan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan 193 negara anggotanya sekali lagi membuktikan dirinya sebagai badan yang lemah, hanya mampu mengeluarkan pernyataan belasungkawa saat darah prajuritnya tumpah.

 

Insiden tragis di Lebanon selatan pada 29-30 Maret 2026—di mana tiga prajurit TNI Indonesia tewas akibat serangan brutal—adalah tamparan keras bagi citra PBB sebagai “penjaga perdamaian”. Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Farizal Rhomadhon gugur sia-sia di pos UNIFIL Aadchit El Qsair dan konvoi Bani Hayyan, korban proyektil artileri serta bom pinggir jalan.

 

Israel? , yang di kenal licik fan sadis membantah sambil menuding Hizbullah. UNIFIL dan PBB? Hanya mengecam “potensi kejahatan perang” dan menuntut investigasi—seperti biasa, kata-kata kosong tanpa tindakan.

 

Lihat kronologi kehancuran itu: 29 Maret, ledakan artileri merenggut satu nyawa TNI dan melukai rekan-rekannya. Esoknya, 30 Maret, bom pinggir jalan menghantam konvoi logistik, menewaskan dua lagi dan melukai lima personel. Respons Sekjen António Guterres? Belasungkawa, doa, dan penekanan “perlindungan personel”.

 

Di mana amarahnya? Di mana pembalasan? Dewan Keamanan hanya mengutuk, sementara veto dari kekuatan besar seperti AS—sekutu setia Israel—pastikan resolusi macam-macam tak pernah lahir.

 

Ini bukan perdamaian; ini penyerahan total!

Beda kelas  dengan Iran, satu-satunya negara yang berani menampar muka Israel dan pendukungnya Amerika.

 

Ketika pemimpin mereka tewas dibunuh—entah Hassan Nasrallah atau jenderal IRGC—Teheran tak bergeming. Mereka balas dendam total: rudal menghujam, drone mengamuk, perang terbuka meski sanksi mencekik dan dukungan Barat membanjiri Tel Aviv.

 

Iran tak hilang suara; mereka berteriak dengan api dan besi. Sementara itu, PBB? Saat tentaranya dibom, sekjennya lenyap dalam rutinitas duka cita. Negara-negara besar seperti AS, Rusia, China—semua diam atau pura-pura sibuk veto satu sama lain.

 

Indonesia? Kirim prajurit mati-matian, tapi suara di Majelis Umum? Hilang ditelan birokrasi.

 

PBB adalah lelucon global: badan yang lahir dari abu Perang Dunia II untuk cegah konflik, tapi kini jadi penonton pasif genosida Gaza, serangan Lebanon, dan pembantaian Yaman. Negara anggotanya? Pengecut kolektif yang lebih suka pidato daripada peluru.

 

Iran tunjukkan jalan: lawan atau mati mencoba. Saat prajurit TNI kita terkubur, saat UNIFIL jadi sasaran empuk, dunia harus bertanya: kapan PBB bangkit dari tidur duka, atau selamanya jadi makam bagi pahlawan tanpa balasan? (*).

Views: 28