Deliserdang, Utomo News, Jum’at 6 februari 2026 – |
Bayangkan sebuah cinta yang tak tergoyahkan oleh tumpukan dinar emas dari sumur Zamzam—kisah romantis ulama agung mazhab Syafi’i, Ibnu Hajar Al-Haitami, penulis monumental Tuhfat al-Muhtaj, yang wafat tahun 973 H. Di tengah lautan ilmu yang mendalam, ia menyimpan rahasia rumah tangga sederhana yang menggetarkan jiwa: tentang kesabaran yang menaklukkan godaan dunia, dan cinta tulus yang memilih keteguhan daripada kilau emas.
Cinta seperti ini bukan sekadar janji manis; ia adalah api suci yang membakar nafsu duniawi, sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW bahwa “cinta yang hakiki adalah yang bertahan dalam ujian” (HR. Bukhari-Muslim).
Suatu sore yang biasa, sang istri menyampaikan hasrat sederhana: mandi air hangat di pemandian umum, pelarian kecil dari rutinitas zuhud mereka. Ibnu Hajar, dengan senyum penuh kasih, berjanji, “Istriku, sabarlah sebentar. Aku akan menabung untukmu.”
Mulai saat itu, sang ulama mulai menyisihkan recehan dari penghasilannya yang pas-pasan—setengah riyal, jumlah yang berharga di zamannya. Setiap koin disimpan dengan doa, simbol komitmennya untuk memenuhi keinginan istri tercinta.
Akhirnya, dengan hati riang, ia serahkan uang itu.Sang istri berangkat penuh harap, langkahnya ringan bagai bunga mekar. Namun, di gerbang pemandian, mimpi itu pupus.
Penjaga loket menggeleng pilu: “Maaf, hari ini disewa penuh oleh istri Imam Ar-Ramli dan rombongan santri putrinya. Kami terima 25 riyal untuk seharian, dan dilarang buka pintu bagi siapa pun. Silakan besok.” Kekecewaan membuncah seperti ombak, ia pulang dengan dada sesak, menyerahkan kembali uang sambil mengadu: “Mengapa kita selalu kekurangan, sementara orang lain berlimpah kemewahan? Ilmu kita tak beri apa-apa selain payah.”
Ibnu Hajar mendengar dalam diam, matanya penuh hikmah. Dengan suara tenang bagai angin subuh, ia berkata, “Aku tak kejar harta fana. Aku ridha pada qadha Allah. Jika kau mau kekayaan, ikut aku ke sumur Zamzam.” Mereka pun menyusuri jalan suci Makkah.
Di mulut sumur legendaris itu, Ibnu Hajar turunkan timba. Saat diangkat, timba banjir dinar emas mengilap! “Cukupkah ini?” tanyanya lembut. Sang istri geleng. Timba kedua, ketiga—semua penuh emas tak terkira, karamah ilahi yang tersembunyi.
Lalu, momen krusial tiba. Ibnu Hajar tatap istrinya dalam: “Aku pilih kesederhanaan atas kehendakku. Harta dunia bagai tamu singkat: datang manis, pergi pahit, menipu hati. Pilihlah sekarang: kembalikan semua emas ini ke sumur dan tetap jadi istriku, atau ambil semuanya, pulang ke orang tuamu, dan terima talakku.”
Cinta tulus diuji di sini—bukan dalam kelimpahan, tapi dalam pilihan sadar untuk qana’ah dan taqwa. Sang istri merayu: satu timba saja, dua timba, satu dinar pun cukup. Tapi Ibnu Hajar tegas: tidak.Air mata jatuh bagai hujan rahmat.
Dengan hati gemetar, ia dorong semua emas kembali ke sumur. “Aku tak mau pisah darimu. Kita arungi bahtera rumah tangga bertahun-tahun. Aku pilih kesabaran, tak tergoda gemerlap dunia.”
Saat itu, cinta mereka berevolusi: dari ikatan biasa menjadi benteng tak tergoyahkan. Cinta tulus, sebagaimana dalam Al-Qur’an (QS. Ar-Rum:21), adalah mawaddah wa rahmah—kasih sayang dan rahmat yang tumbuh dari ujian, melampaui emas dan harta, menuju keabadian akhirat.
Sejak itu, Ibnu Hajar sembunyikan karamahnya dalam zuhud, sementara istrinya temukan kekayaan sejati: kebersamaan abadi dan keteguhan hati. Kisah ini mengajarkan bahwa cinta hakiki tak diukur dari dompet tebal, tapi dari pilihan hati yang memilih pasangan di atas segalanya—pelajaran abadi bagi kita di era materialisme.
Kisah disarikan dari Al-Fawaid Al-Mukhtarah li Salik Tariq al-Akhirah karya Al-Habib Zein Smith (hlm. 378–380). Semoga jadi pengingat: cinta tulus adalah harta karun yang tak ternilai. ***
Reporter ; Hasan Basri Siregar.
Views: 15













