Berita  

“ORANG BODOH BICARA UNTUK MENANG, ORANG BIJAK BICARA UNTUK PAHAM”   Oleh: Hasan Basri Siregar Ketua JWI Deli Serdang

 

 

Deli Serdang, Utomo News-|

 

PENDAHULUAN;

Komunikasi adalah napas dari peradaban. Namun tidak semua komunikasi dibangun di atas niat yang sama. 

 

Ada komunikasi yang lahir dari ego untuk menang. Ada pula komunikasi yang lahir dari nurani untuk memahami. 

 

Pernyataan “Orang bodoh bicara untuk menang. Orang bijak bicara untuk paham” bukan sekadar sindiran. Ia adalah prinsip etika komunikasi publik, terutama bagi kita yang diberi amanah sebagai stakeholder di tengah masyarakat.

 

Sebagai stakeholder, setiap ucapan kita bukan milik pribadi. Ia akan menjadi arah kebijakan, menjadi konsumsi publik, dan menjadi cermin peradaban.

 

1. DUA PARADIGMA BERBICARA. 

 

A. PARADIGMA “MENANG”

Ini komunikasi transaksional. 

1. Ciri: Data dipilih, fakta dipelintir, lawan dipojokkan. Tujuan utamanya: saya harus benar, kamu harus salah.

2. Akarnya: Ketakutan, ego, dan kepentingan sesaat. 

3. Dampaknya: Melahirkan polarisasi. Di pemerintahan, ini jadi kebijakan tebang pilih. Di masyarakat, ini jadi perpecahan. Contoh nyata: penertibkan pondok petani tapi membiarkan pagar beton di kawasan jalur hijau desa Rugemuk kecamatan Pantai Labu.

 

Menang dalam debat, tapi kalah dalam kepercayaan.

 

B. PARADIGMA “PAHAM”

Ini komunikasi transformatif. 

1. Ciri: Mendengar dulu, bertanya, menguji data dari semua sisi. Tujuan utamanya: kita harus paham masalahnya, bukan siapa yang salah.

2. Akarnya: Kerendahan hati, tanggung jawab, dan visi jangka panjang.

3. Dampaknya: Melahirkan solusi dan keadilan. Seperti pernyataan sikap Kelompok Tani Desa Rugemuk. Santun, berbasis fakta, dan menuntut hukum ditegakkan tanpa pandang bulu.

 

Mungkin “kalah” di ruang debat, tapi menang dalam membangun peradaban.

 

2. TANGGUNG JAWAB SEBAGAI STAKEHOLDER

 

Sebagai stakeholder, kita berdiri di persimpangan antara pemerintah, masyarakat, dan media. Maka cara bicara kita menentukan 3 hal:

 

1. Arah Kebijakan 

    Apakah kebijakan lahir dari amarah dan pencitraan, atau lahir dari data dan pemahaman akar masalah?

2. Kesehatan Sosial  

    Apakah ucapan kita mempersatukan, atau memecah belah? Apakah kita menjadi penyejuk atau penyulut?

3. Kepercayaan Publik 

    Masyarakat hari ini cerdas. Mereka bisa membedakan mana pejabat/stakeholder yang bicara untuk menang di medsos, dan mana yang bicara untuk mencari solusi.

 

3. FILOSOFI DI BALIK KALIMAT

 

“Menang” adalah tujuan jangka pendek. Ia memuaskan ego hari ini, tapi meninggalkan luka esok hari.  

“Paham” adalah tujuan jangka panjang. Ia mungkin lambat, tapi membangun fondasi.

 

Orang bijak tahu: Tujuan akhir dari bicara bukan membuat orang lain diam. Tapi membuat semua orang paham.

 

PENUTUP

 

Di era informasi dan konflik kepentingan seperti sekarang, tantangan terbesar kita bukan kurangnya informasi. Tapi kurangnya orang yang mau bicara untuk paham.

 

Sebagai stakeholder, mari kita jadikan setiap forum, setiap wawancara, setiap pernyataan sebagai ruang pencerahan, bukan ruang peperangan.

 

Sebelum bicara, mari uji diri dengan 3 pertanyaan:  

Benar? Perlu? Baik?

 

Karena pada akhirnya, sejarah tidak mencatat siapa yang paling keras berteriak.  

Sejarah mencatat siapa yang paling bijak berpikir.

 

Deli Serdang, Kamis, 16-Juli-2026

Hasan Basri Siregar  

Ketua JWI Deli Serdang. 

 

Views: 11