Berita  

Korupsi Pejabat Bergelar Tinggi, Oleh ; Hasan Basri Siregar, Ketua JWI DS. 

 

 

Deli Serdang, Utomo News, Selasa 16 Juni 2026-|

 

1. Pendahuluan: Paradoks “Tinggi Tanpa Sadar”.

Fenomena pejabat, akademisi, atau tokoh agama dengan “jabatan tinggi, pangkat tinggi, gelar tinggi” yang tersangkut korupsi, adalah bukti nyata matinya satu dimensi penting dalam diri manusia: pengetahuan batin. Al-Qur’an menyebut kondisi ini “tanpa sadar” – bukan tanpa ilmu, tapi tanpa kesadaran Ilahiyah.

 

Allah berfirman:  

“Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami, mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah”[QS. Al-A’raf: 179].

 

Lengah = ghafil= “tanpa sadar”. Punya otak, tapi tidak dipakai untuk sadar bahwa Allah Maha Melihat.

 

2. Konsep Pengetahuan Zahir vs Batin dalam Islam  

Para ulama membagi ilmu manusia jadi 2:

Pengetahuan Zahir-Pengetahuan Batin. 

Ilmu dunia, akal, logika, hukum positif, ilmu administrasi & Ilmu hati, muraqabah, ihsan, takwa. 

 

“Kisah pengembala kambing jual 1 dari 1000 tidak akan ketahuan” Tanpa sadar, “Allah melihat meski tidak ada bos yang lihat”

 

Dikisah ini kita mengukur untung-rugi dunia, Mengukur ridha dan murka Allah atas matinya pengetahuan batin. 

 

Rawan membenarkan kecurangan Mengharamkan walau 1 rupiah haram

Rasulullah ﷺ mendefinisikan puncak. pengetahuan batin dengan istilah IHSAN:  

“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu” [HR. Muslim no. 8].

 

Inilah “pengetahuan batin” yang mati pada koruptor. Dia cuma main di level zahir: “asal nggak ketahuan KPK, aman”. Padahal level batinnya sudah mati.

 

3. Dampak Matinya Pengetahuan Batin: 3 Jurang Kehancuran.  

Al-Qur’an dan Hadits mencatat dampaknya secara sistematis:

 

A. Jurang 1: Hilangnya Muraqabah → Lahirlah Korupsi.  

Muraqabah = merasa selalu diawasi Allah. Kalau ini mati, maka lahir ayat:  

“Ia mengira tidak ada seorang pun yang melihatnya?”[QS. Al-Balad: 7]. 

 

Koruptor “tanpa sadar” karena keyakinannya hanya berhenti di “mata manusia”. Padahal Allah berfirman: _“Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi dan yang lebih tersembunyi” [QS. Thaha: 7].

 

B. Jurang 2: Kematian Hati → Rasionalisasi Dosa.  

Nabi ﷺ bersabda: “Ingatlah, di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati” [HR. Bukhari-Muslim].

 

Hati yang mati = logika zahir jadi “pengacara iblis”. Kasus “jual 1 kambing dari 1000 ekor” adalah contoh rasionalisasi zahir. Hati batinnya sudah mati, maka dia bilang: “ini bukan curi, ini strategi”. Padahal Nabi ﷺ melaknat: “Allah melaknat orang yang menyuap dan yang menerima suap” [HR. Tirmidzi].

 

C. Jurang 3: Lupa Hari Pembalasan → Asik Tipu Daya Dunia.  

Allah tegur keras: “Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah pada hari yang seorang bapak tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak dapat menolong bapaknya sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar” [QS. Luqman: 33].

 

Koruptor “tanpa sadar” karena short-term thinking. Otaknya hanya hitung “uang sekarang”. Padahal Allah sudah warning: “Dan janganlah sekali-kali orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka mengira bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka”[QS. Ali Imran: 180]. “Tanpa sadar” = tidak sadar bahwa suap 1M hari ini = azab berlipat di akhirat.

 

4. Penutup: Vaksinnya Adalah Menghidupkan Batin 

 

Gelar S3, pangkat jenderal, jabatan bupati tidak bisa jadi tameng kalau pengetahuan batin mati. Vaksinnya hanya 1: menghidupkan-Muraqabah.

 

Imam Al-Ghazali bilang: “Orang yang paling bodoh adalah orang yang berakal tapi tidak ber-Tuhan”. 

 

Maka tugas kita – khususnya ASN, akademisi, ulama – adalah “Deli Serdang Mengaji” Yang baru kemarin di canang kan Bupati dr Asri Ludin Tambunan versi batin: bukan cuma baca Al-Qur’an dengan lisan, tapi “membaca” pengawasan Allah dengan hati. 

 

Karena yang menyelamatkan pengembala kambing bukan banyaknya kambing, tapi sadarnya bahwa: “Allah Melihat”. 

 

Wallahu A’lam Bishawab.

 

*Referensi Singkat:* QS. Al-A’raf:179, QS. Al-Balad:7, QS. Thaha:7, QS. Luqman:33, QS. Ali Imran:180. HR. Muslim no.8, HR. Bukhari-Muslim, HR. Tirmidzi.

 

 

 

 

Views: 4