Lubuk Pakam, Utomo News -|
Mahalnya harga rokok pabrikan kini melahirkan gaya hidup baru: merokok mandiri. Warga, khususnya para perokok berat, mulai menggulung tembakau sendiri di rumah sebagai solusi hemat.
Tren ini diprakarsai oleh Ketua Jajaran Wartawan Indonesia / JWI Deli Serdang, Hasan Basri Siregar. Ia menyebut ini sebagai cara menyiasati ekonomi tanpa harus berhenti merokok.
“Ini efek ekonomi yang membuat warga mandiri. Ditengah harga rokok mahal, akhirnya masyarakat membuat rokok secara mandiri. Tujuannya untuk menyiasati bagi pecandu rokok, agar bisa merokok dengan berkelas tapi murah meriah,” ujarnya di Lubuk Pakam, Minggu 28/6/2026.
Hemat 75%, Bahan Gampang Didapat.
Menurut Hasan Basri, semua perlengkapan kini mudah dijangkau. Mulai dari tembakau sesuai selera, alat penggulung manual, kertas linting, hingga filter rokok.
Ia mencontohkan perhitungan hematnya. Seorang perokok berat yang biasanya habis 20 ribu per hari atau Rp 600 ribu per bulan, kini bisa ditekan drastis.
“Dengan rokok buatan sendiri, bisa menghemat sampai 75 persen. Dan itu sudah cukup puas untuk perokok berat dan juga penghematan,” ungkapnya.
“Selain itu kita merokok menikmati rasa tembakaunya, bukan merek rokoknya”.
Dengan selisih harga itu, dana yang tersisa bisa dialihkan untuk kebutuhan keluarga lain.
“Berkelas Tapi Murah Meriah”
Gagasan ini mendapat respons positif di kalangan perokok. Konsepnya sederhana: kualitas rasa bisa diatur sendiri sesuai selera tembakau, tapi biaya produksi jauh di bawah rokok bermerk.
“Merokok dengan berkelas tapi murah meriah”, Pungkas, Hasan Basri.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana tekanan ekonomi mendorong masyarakat mencari alternatif kreatif agar gaya hidup tetap terjaga tanpa membebani keuangan rumah tangga.
Reporter: Tim Utomo News
Lokasi: Lubuk Pakam, Deli Serdang.
Views: 32












