Berita  

Belajar dari Frisian Flag: Saatnya Indonesia Punya Konglomerat Koperasi, Bukan Konglomerat Tengkulak   Oleh: Hasan Basri Siregar Ketua Jajaran Wartawan Indonesia / JWI Deli Serdang

Deli Serdang, Utomo News-|

 

Siapa yang tidak kenal Susu Bendera, Frisian Flag? Di warung, di minimarket, hampir semua anak Indonesia tumbuh dengan produk itu. Tapi berapa banyak yang tahu, di balik kaleng bendera merah putih itu, berdiri sebuah koperasi peternak sapi dari negeri kincir angin?

 

Jika Indonesia ingin punya konglomerat lokal yang adil, ceritanya harus kita mulai dari Friesland, 1871.

 

1. Kisah Awal: Peternak vs Tengkulak.

 

Tahun 1871, Provinsi Friesland, Belanda Utara. Tanah becek, rumput subur. Tapi paradoksnya, peternak tetap miskin, tengkulak jadi konglomerat. Suara mereka tidak ada harga di pasar.

 

Marah. 8 orang peternak bersatu. Mereka mendirikan `Coöperatieve Zuivelfabriek De Eendracht`: “Pabrik Susu Gotong Royong Persatuan”. Inilah koperasi sapi pertama di dunia.

 

Prinsipnya satu, tapi mematikan: `1 Peternak = 1 Suara. Untung dibagi sesuai susu yang disetor.`

Tidak ada pemegang saham eksternal yang menindas. Yang kerja, yang menikmati.

 

Selama 130 tahun, model ini bereplikasi. 1 desa 1 koperasi. Muncul 100+ koperasi kecil. Persaingan sehat terjadi. Yang terbesar? `Friesland Foods` alias “Sapi Merah” vs `Campina` alias “Sapi Putih”. Sama-sama koperasi, sama-sama milik peternak.

 

2. Titik Balik 2008: Bersatu atau Mati.

 

Datanglah musuh dari luar: Nestle, Danone, Unilever. Modalnya raksasa. Jika `Friesland Foods` dan `Campina` perang sendiri-sendiri, mereka akan habis.

 

Maka 2008, dua raksasa koperasi itu bergabung. Lahir `FrieslandCampina Coöperatie U.A.` dengan 20.000 anggota peternak. Menjadi koperasi susu terbesar di dunia.

 

Mereka tidak berhenti di koperasi. Mereka mendirikan Holding: `FrieslandCampina Nederland B.V`. Ini adalah “Perdana Menteri” yang merambah dunia. Di Indonesia, anak perusahaannya kita kenal: PT. Frisian Flag Indonesia.

 

Analogi sederhananya: Koperasi adalah Sang Raja, Holding adalah Perdana Menteri, PT di negara jajahan adalah Gubernur Jenderal.

 

Hasilnya 2025: Omzet €14 Miliar = Rp240 Triliun/tahun. Dan yang menikmati bukan segelintir konglomerat. Tapi 20.000 peternak anggota koperasi.

 

3. Pertanyaan Kritis untuk Indonesia: Di Mana Koperasi Kita?

 

Ini yang harus jadi tamparan. Belanda, negara kecil, bisa melahirkan konglomerat dunia dari koperasi sapi. Indonesia, dengan kekayaan gula aren, hasil laut, rempah, sawit, kopi, kenapa belum ada yang berkelas dunia?

 

Pertanyaan saya sederhana: Kenapa kita harus seragam di seluruh Indonesia dengan skema KDMP?

 

Koperasi sejati tumbuh dari bawah, dari masalah lokal, dari gotong royong. Bukan seragam dari atas. Peternak Friesland tidak menunggu perintah dari Den Haag untuk bersatu. Mereka bersatu karena tertekan tengkulak.

 

Bayangkan jika Indonesia punya:

1.  Konglomerat Gula Aren milik petani Sulawesi.

2.  Konglomerat Hasil Laut milik nelayan Maluku & Sumut.

3.  Konglomerat Kopi milik petani Gayo & Mandailing.

 

Semua bermula dari koperasi, naik level jadi holding, lalu punya PT di Singapura, di Dubai, di Eropa. Untungnya kembali ke kampung.

 

4. Solusi: 3 Hal yang Harus Kita Tiru dari Belanda.

 

1.  Jaga Prinsip Dasar: `1 Anggota = 1 Suara`. Koperasi mati saat dikendalikan elit atau investor luar. Koperasi harus milik anggota, oleh anggota.

2.  Izinkan Konsolidasi: Jangan takut koperasi besar. Biarkan 10 koperasi kecil bersaing, lalu dorong mereka merger saat menghadapi modal besar. `Friesland + Campina = FrieslandCampina`. Itu rumus bertahan.

3.  Pisahkan Fungsi: Koperasi sebagai “Raja” yang mengatur anggota. Holding sebagai “Perdana Menteri” yang berbisnis, berekspansi, dan berani bersaing global. Jangan disamakan.

 

Frisian Flag hari ini adalah bukti. Produk Belanda, tapi untungnya dinikmati peternak Belanda.

 

Sudah waktunya Indonesia berhenti bermimpi punya konglomerat baru dari lingkaran istana. Saatnya kita melahirkan konglomerat koperasi dari desa, dari ladang, dari laut.

 

Karena jika tidak, kita akan selamanya hanya jadi pasar. Bukan pemilik.

 

Deli Serdang , Minggu 28 Juni 2026.

Hasan Basri Siregar; Ketua JWI DS.

Views: 7