Deliserdang, Utomo News, Minggu 22 Februari 2026- |
Dalam gemerlap dunia yang penuh tipu daya, Rasulullah SAW datang sebagai pembawa risalah taqwa, bukan janji kekayaan melimpah. Beliau mengajarkan umat manusia bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada tumpukan harta atau deretan konglomerat, melainkan pada ketakwaan kepada Allah SWT yang menentukan derajat di sisi-Nya.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 13: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” Ayat ini menjadi pondasi utama ajaran Baginda, mengingatkan bahwa taqwa,bukan ribuan emas, menjadi ukuran kemuliaan.
Bayangkan sahabat-sahabat terdekat beliau, yang justru dikenal sebagai pengusaha sukses dan pemilik harta karun. Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, sahabat pertama yang memeluk Islam, adalah saudagar kaya raya dengan perdagangan kain dan unta yang melimpah. Saat hijrah ke Madinah, ia mendermakan seluruh hartanya untuk membeli kebebasan budak mukmin dan keperluan perjuangan Islam, hingga Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada seorang pun yang mengorbankan hartanya seperti Abu Bakar.” (HR. Bukhari-Muslim).
Ia tak mengejar dunia, tapi memilih akhirat, sadar betul firman Allah dalam surah Al-Kahfi ayat 46: *“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal shalihah yang kekal adalah yang lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu.”
Demikian pula Utsman bin Affan RA, khalifah ketiga yang dikenal sebagai pemilik karavan dagang raksasa ke Syam dan Persia. Kekayaannya begitu melimpah hingga ia mampu membiayai dua sumur air di Madinah dan mempersenjatai pasukan Tabuk sepenuhnya.
Saat itu, beliau berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah membelanjakan separuh hartaku untuk Allah.” Rasulullah SAW menjawab: “Demi Allah, engkau telah membelanjakan separuh hartamu untuk Allah, dan separuh yang lain untuk keluargamu.” (HR. Tirmidzi).
Utsman tak tergoda jadi konglomerat abadi; ia ingat hadits qudsi: “Harta itu bukan milikmu, melainkan titipan Allah untuk diinfakkan di jalan-Nya.”
Tak ketinggalan Khadijah binti Khuwailid RA, istri pertama Rasulullah SAW yang disebut “Putri Juragan” karena kekayaannya dari perdagangan sutra dan rempah ke Yaman. Saat wahyu pertama turun, ia tak ragu mendermakan seluruh hartanya untuk dakwah, hingga Rasulullah SAW bersaksi di hari kiamat: “Khadijah akan bersama istri-istri para nabi di surga.” (HR. Muslim).
Mereka bertiga—Abu Bakar, Utsman, Khadijah—adalah bukti hidup bahwa kekayaan dunia hanyalah sementara, sebagaimana Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 185 tegas: “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya kamu akan diberi upahmu dengan sempurna pada hari kiamat.”
Rasulullah SAW sendiri hidup sederhana, tidur di atas tikar jerami hingga meninggalkan bekas di tubuhnya, sambil bersabda: “Dunia ini manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah telah menjadikan kamu khalifah di dalamnya, maka lihatlah apa yang kamu perindahkan. Janganlah kamu mengejar dunia, karena sesungguhnya dunia itu pasti binasa.” (HR. Muslim).
Teladan ini relevan bagi kita hari ini, di tengah goncangan ekonomi dan godaan materialisme. Mereka menyadari kehidupan dunia hanyalah “seperti air hujan yang menyuburkan tanaman lalu mengering” (QS. Al-Kahfi: 45), sementara akhirat kekal abadi.
Untuk diketahui, Taqwa menurut Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, adalah upaya memelihara hubungan baik dengan Allah, bukan hanya karena takut, tapi kesadaran sebagai hamba. Imam An-Nawawi mendefinisikannya sebagai mentaati perintah dan larangan Allah untuk terhindar dari kemurkaan-Nya.
Marilah umat Islam meneladani mereka: jadikan taqwa sebagai tujuan utama, infakkan harta untuk jalan Allah, dan ingat janji-Nya dalam surah Al-Baqarah ayat 261: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai seratus biji.” Dengan begitu, kita bukan mengejar gelimang harta, tapi surga yang tiada akhir. (*).
Views: 20













