Berita  

Firaun Modern vs Mukjizat Iman Musa AS. Oleh ; Hasan Basri Siregar Ketua JWI Deli Serdang.

 

Deli Serdang, Utomo News, Sabtu, 21 februari 2026- |

Di era influencer bayaran dan staff war digital, penguasa sadis kini punya pasukan “penyihir” virtual yang memoles citra busuk mereka jadi kilau emas. Negara adikuasa seperti Amerika dan Israel bersekutu menangkap pemimpin sesuka hati—Irak, Kuba, bahkan Gaza—sambil memanfaatkan “agen propaganda” untuk lindungi antek mereka.

Ini bukan baru: Firaun zaman dulu sudah operasikan agensi elit House of Life (Pr-Ankh), jauh lebih rapi dan mematikan.

Mari kita bedah duel legendarisnya—Musa AS vs institusi sihir Mesir—sebagai cermin taqwa di tengah gaslighting massal zaman now.

Firaun tak sembarangan panggil dukun. Ia kerahkan lector-priests, elit intelektual Mesir yang jadi teknokrat ideologi dan spin doctor publik. Tugas mereka? Jaga narasi “Firaun adalah Tuhan” lewat manipulasi pikiran rakyat. Mengapa? Mukjizat Musa AS picu krisis otoritas di istana.

Firaun butuh “bukti teknis” agar Musa dicap penipu, cegah runtuhnya tahta akibat gerakan pembebasan Bani Israil.

Al-Qur’an catat strateginya:
“Dan Fir’aun berkata (kepada pemuka kaumnya): ‘Datangkanlah kepadaku semua ahli sihir yang pandai!’” (QS. Yunus: 79).

Ilusi Mata vs Realitas Iman: Sains Gaslighting Massal

Pada Yaumul Zinah (hari raya), ribuan penyihir tampil di depan jutaan massa. Ibnu Abbas dan Ibnu Katsir ungkap triknya: lumuri tali-tongkat dengan air raksa (zi’baq). Panas zuhaur bikin raksa menggeliat kinetik, ciptakan ilusi ular hidup—mass hysteria untuk tundukkan rakyat.

Al-Qur’an potong tajam:
“Maka setelah mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang banyak dan menjadikan orang banyak itu takut, karena mereka memperlihatkan sihir yang hebat.” (QS. Al-A’raf: 116).

Zaman influencer? Sama persis: deepfake, narasi viral, dan cancel culture poles penguasa jadi “pahlawan”.

Tapi tongkat Musa bukan ilusi—ia Ultimate Disruptor iman. Bukan sekadar simbol ular, tapi ular raksasa nyata (tsu’ban mubin) yang telan semua tali penyihir secara fisik. Ilusi tak bisa makan materi! Allah firmankan:
“Dan lemparkan apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka buat. Apa yang mereka buat itu hanyalah tipu daya tukang sihir (belaka)…” (QS. Thaha: 69). Lapangan bersih total—mukjizat taqwa hancurkan propaganda.

Siti Asiah: Taqwa Radikal di Istana Firaun

Di kegilaan itu, muncul Siti Asiah, ratu yang pilih iman atas kemewahan. Terinspirasi keteguhan Siti Masyitah (periasnya) yang rela mati di kuali daripada akui Firaun Tuhan, Asiah taqwa total. Disiksa pasak di bawah terik matahari, ia tersenyum lihat surga dari Allah.

Rasulullah SAW puji: “Wanita penghuni surga yang paling utama adalah… Asiyah binti Muzahim istri Firaun.” (HR. Ahmad).
Doanya abadi: “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga…” (QS. At-Tahrim: 11).

Firaun panik saat istrinya dan penyihirnya (setelah lihat mukjizat) bersujud ke Musa. Ia ancam potong tangan-kaki silang dan salib di pohon kurma: “Demi Allah, pasti akan aku potong tangan dan kakimu…” (QS. Al-A’raf: 124).

Tapi mereka jawab tenang: balik ke Tuhan saja. Ibn Khaldun amati: kekuasaan penindas runtuh saat elit retak. Solidaritas taqwa kalahkan staff war Firaun.

# Panggilan Taqwa Zaman Influencer #

Hari ini, “tali air raksa” berubah jadi feed Instagram, TikTok propaganda, dan influencer bayaran yang poles penguasa sadis. Jangan jadi penonton tertipu! Pilih jalan Siti Asiah: integritas di atas validasi istana. Wahai para Asiah modern di birokrasi dan media—tolak air raksa manipulasi, biar penguasa lihat kebenaran kasat mata.
Mana pilihanmu: budak narasi palsu, atau pemegang iman kokoh seperti Musa dan Asiah? Taqwa adalah senjata disruptor abadi. (*).-

Views: 30