Medan, Utomo News, Sabtu,21 Februari 2026 – |
Perguruan Karate-DO Tako Indonesia memasuki usia 63 tahun dengan semangat yang tak pernah pudar. Peringatan Dirgahayu ke-63 jatuh tepat pada Senin, 23 Februari 2026, dan menjadi momen sakral bagi para pendekar sabuk hitam di wilayah Medan. Acara puncaknya adalah ziarah ke makam pendiri atau “Suhu” di Sidorukun, rumah peninggalan legenda bela diri ini, yang diharapkan menyatukan komunitas karateka Sumatera Utara dalam doa dan refleksi.
Pengumuman resmi dari perguruan ini disampaikan oleh Ir Isnaini, Sabtu (21/2) jelang HUT Tako, menekankan kumpulnya para sabuk hitam di Sidorukun pukul 09.00 WIB. Sebelum berangkat ke makam Suhu, peserta akan menerima pengarahan langsung dari Guru Riza Mutyara, ujar Neni panggilan akrabnya.
Guru Riza, figur sentral yang dikenal sebagai penerus estafet kepemimpinan Tako Indonesia. “Ini bukan sekadar peringatan tahunan, tapi rekindle jiwa pendekar yang telah mengukir sejarah bela diri nasional selama 63 tahun,” ujar Hasan Basri Siregar senior Tako Indonesia menambahkan nuansa eksklusif pada rangkaian acara.
Didirikan pada 1963, di Tebingtinggi Karate-DO Tako Indonesia telah menjadi salah satu pilar utama olahraga bela diri di Indonesia, khususnya di Sumatera Utara. Perguruan ini lahir dari visi Suhu—tokoh visioner yang memadukan teknik karate Jepang dengan silat tradisiona Nusantara.
Alm Drs.Syahrun Isa yang juga dikenal turut membidani lahirnya Forki di Indonesia, juga Ribuan karateka telah lahir dari pelatihan ketatnya, menghasilkan prestasi di tingkat regional hingga nasional, termasuk medali di Pekan Olahraga Nasional (PON) dan turnamen internasional.
Di era modern, Tako Indonesia terus relevan melalui program pembinaan pemuda, adaptasi teknologi pelatihan, HUT ke-63 ini khususnya bermakna di tengah tantangan pasca-pandemi, di mana komunitas bela diri seperti Tako berjuang mempertahankan eksistensi.
Ziarah makam Suhu bukan hanya ritual adat, tapi simbol penghormatan terhadap warisan yang telah bertahan tiga generasi. Guru Riza Mutyara, yang pengarahannya dinanti, dikenal dengan pendekatan holistik: menggabungkan fisik, mental, dan spiritual karateka. “Pengarahan ini akan jadi kompas bagi kami menghadapi 2026, tahun di mana Tako siap ekspansi digital dan turnamen besar,” tambah sumber tersebut.
Bagi karateka Medan dan sekitarnya, ini panggilan suci. Hadir atau tidak, semangat Dirgahayu ke-63 mengingatkan: Tako bukan hanya perguruan, tapi keluarga abadi. Media ini memantau eksklusif kelanjutannya—pantau update untuk liputan langsung dari Sidorukun. (HBS).
Views: 87













