Berita  

EKSKLUSIF: Amerika Serikat Kualat! Jutaan Rakyatnya Demo Besar-besaran, Trump Diterjang Badai Protes Internal

 

Medan, Utomo News, Sabtu,14 Maret 2026 –|

 

Amerika Serikat, raksasa superpower yang biasa mengguncang dunia dengan kebijakannya, kini justru “kualat” di negeri sendiri. Gelombang demo anti-Trump terbesar sepanjang masa terus mengguncang 50 negara bagian, dengan rakyat AS turun ke jalan menuntut pemakzulan sang presiden pasca-serangan militer brutal gabungan AS-Israel ke Iran.

 

Ini bukan sekadar protes biasa, melainkan pemberontakan massal yang menggambarkan retaknya fondasi kekuasaan Donald Trump di tahun keduanya memimpin.

 

Ledakan Kemarahan Rakyat: Dari Gedung Putih Hingga Times Square

 

Puncak amarah memuncak pada akhir Februari hingga awal Maret 2026, tepat setelah AS-Israel melancarkan serangan dahsyat ke wilayah Iran yang memicu kekacauan Timur Tengah. Ribuan warga berkumpul di depan Gedung Putih, Washington D.C., meneriakkan slogan “Impeach Trump Now!” sambil mengibarkan spanduk anti-perang.

 

Di New York, Times Square berubah menjadi lautan manusia dengan puluhan ribu peserta yang mengenakan kostum tahanan Guantanamo, melambangkan kebijakan deportasi massal Trump.

 

Protes tak terbatas di ibu kota. Los Angeles, Chicago, Miami, dan puluhan kota besar lain menjadi medan pertempuran verbal. Kelompok aktivis March 4 Democracy (M4D) memimpin aksi ini, memperkirakan total peserta nasional mencapai ratusan ribu jiwa.

 

Mereka menyoroti risiko perang dunia baru akibat agresi Trump, ditambah isu imigrasi kejam dan anggaran militer membengkak yang memiskinkan rakyat biasa.

 

Trump Kualat: Superpower Terjepit Pemberontakan SendiriIronisnya, negara yang sering ikut campur urusan dunia kini tak berdaya hadapi gejolak domestik. Sejak pelantikan Trump Januari 2025, jumlah demo melonjak 133% dibanding masa jabatan pertamanya, dengan puncak “No Kings” Oktober 2025 yang memobilisasi 7 juta orang di 2.700 lokasi.

 

Kini, serangan Iran jadi bensin baru: warga New York berteriak “Stop the War!”, sementara di California ribuan buruh mogok menolak kebijakan Elon Musk yang diduga dekat dengan Trump.

 

Para pengamat menyebut ini “ancaman demokrasi terbesar” bagi AS. Organisasi seperti Indivisible dan AFL-CIO memprediksi demo “No Kings” berikutnya pada 28 Maret bakal pecah lebih dahsyat, potensial jutaan peserta lagi. Trump disebut “raja otoriter” yang abaikan suara rakyatnya sendiri, mirip revolusi yang pernah guncang sejarah AS.

 

Dampak Global: AS Rapuh, Dunia Menanti

 

Kekacauan ini tak hanya urusan dalam negeri. Ekonomi AS goyah, pasar saham turun, dan sekutu Eropa mulai jaga jarak dari kebijakan agresif Trump.

 

Bagi Indonesia, ini pelajaran berharga: bahkan superpower pun bisa runtuh jika rakyatnya bangkit. Protes ini menandai era baru di mana rakyat AS tak lagi diam, tapi jadi kekuatan yang bikin Gedung Putih gemetar.  (Hari’S).

Views: 5