Deliserdang, Utomo News, Selasa,24 februari 2026- |
Mengambil tamsil perumpamaan seekor lalat yang beterbangan di sekitar tumpukan sampah busuk. Bau menyengat, kotoran bertebaran, tapi si lalat malah betah berpesta di sana. Mengapa? Karena itulah “zona nyamannya”—tempat ia merasa bebas, dan menikmati kebusukan yang menyenangkan. meski sebenarnya ada tempat yang wangi tapi dia tak peduli.
Cobalah tarik ia ke bunga mawar yang harum, kelopaknya segar dan nektar manis menggoda, tapi apa yang terjadi? Lalat itu kembali lagi ke sampah! Begitulah perumpamaan sempurna untuk sifat manusia yang sok pintar, alias dungu sejati: sulit sekali diubah.
Mereka terikat erat pada kebodohan mereka sendiri, lebih memilih aroma busuk prasangka daripada wangi kebenaran yang murni.
Sifat ini bukan sekadar kelemahan kecil; ia seperti penyakit kronis yang menjangkiti banyak orang di era media sosial saat ini. Manusia sok pintar ini sering tampil percaya diri, penuh argumen, tapi kosong dari pemahaman mendalam.
Mereka sibuk membela opini usang, meski bukti kebenaran sudah terpampang jelas di depan mata. Sulit merubahnya karena ego mereka seperti dinding besi: setiap kritik justru memperkuat benteng dungu itu.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menggambarkan golongan ini sebagai orang yang “mendengar kata-kata kebenaran, tapi hatinya keras seperti batu” (QS. Al-Baqarah: 74). Mereka bukan tak tahu, tapi tak mau tahu—seperti lalat yang sengaja memilih sampah karena tak tahan cahaya terangnya bunga.
Saat Anda menyampaikan kebenaran dengan tulus, reaksi mereka pun berbeda-beda, seperti ujian saringan Tuhan.
Orang cerdas akan merenung dalam diam, menimbang-nimbang, lalu berubah jadi lebih baik. Mereka seperti lebah yang langsung menyerap nektar dan membangun sarang madu.
Sebaliknya, si dungu langsung tersinggung, marah besar, bahkan balik menyerang. “Kamu siapa berani ajari aku?!” katanya, padahal kebenaran itu obat untuk jiwanya.
Contoh nyata? Lihat saja perdebatan politik di Indonesia belakangan ini: data statistik menunjukkan korupsi merajalela di daerah seperti Deli Serdang, tapi sebagian orang lebih suka bela figur idola mereka ketimbang akui fakta.
Atau dalam kajian agama, saat ustadz kutip hadits Nabi SAW tentang akhlak mulia, ada yang merenung, tapi yang sok pintar malah debat kusir soal “interpretasi pribadi”.Mengapa sulit diubah? Karena sifat dungu ini berakar pada takut kehilangan “identitas palsu”.
Seperti lalat yang lahir di sampah, ia tak bisa bayangkan hidup di bunga—terlalu asing, terlalu indah. Psikologi modern menyebutnya “disonansi kognitif”: otak menolak informasi yang bertentangan dengan keyakinan lama.
Tapi ada harapan: dengan kesabaran seperti Rasulullah SAW menghadapi kaum Quraisy, kita bisa ajak mereka pelan-pelan. Mulai dari pertanyaan, bukan serangan. Ingat, kebenaran seperti matahari—tak perlu dipaksa, cukup tunggu kabut ego mereka hilang.
Jadi, lain kali Anda hadapi lalat busuk macam ini, jangan patah semangat. Biarkan mereka di sampahnya, sementara Anda nikmati wangi bunga kebenaran. Siapa tahu, suatu hari Tuhan buka matanya. (*).
Views: 47













